
BRANINEWS.ID, INDONESIA
Caracas, Venezuela
Catatan Jurnalis Indonesia
Sabtu, 3 Januari 2026. Dunia terperangah setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Venezuela, yang menurut pengumuman Presiden AS Donald Trump berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta menerbangkan mereka keluar dari negara itu.
Trump menyatakan serangan itu sebagai keberhasilan strategis dan bagian dari kampanye luas melawan apa yang disebutnya “ancaman narco-terorisme.”
Serangan ini dilaporkan melibatkan strike udara di berbagai titik, termasuk ibu kota Caracas dan beberapa basis militer utama, menyebabkan ledakan terdengar di seluruh kota dan lingkungan sekitar.
Sumber AS menyebut operasi itu sudah direncanakan lama dan menargetkan pusat kekuasaan Maduro langsung di Fuerte Tiuna, kompleks militer yang menjadi markas utama kekuasaan Venezuela.

Reaksi Kuba: Tuduhan “Serangan Kriminal” dan Perbandingan dengan Gaza
Presiden Miguel Díaz-Canel Bermúdez dari Kuba mengecam keras tindakan Amerika Serikat tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dibagikan melalui media sosial dan saluran diplomatik.
Díaz-Canel menyebut serangan militer terhadap Venezuela sebagai “aksi kriminal” dan “terorisme negara”, serta secara kontroversial membandingkannya dengan situasi di Gaza.
Dias menegaskan bahwa Kuba akan berdiri di sisi Venezuela, bahkan jika harus “mengorbankan darahnya sendiri” untuk melindungi kedaulatan Amerika Latin.
Pernyataan Díaz-Canel mencerminkan solidaritas kuat dari pemerintah Havana, yang telah lama memandang Caracas sebagai sekutu ideologis. Kritik Kuba ini juga menambahkan tekanan diplomatik di panggung internasional, di mana banyak negara menilai intervensi militer AS melanggar prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Guncangan Global dan Krisis Diplomatik
Operasi ini telah memicu kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional. Brasil menyatakan tindakan AS telah “melintasi batas yang tidak dapat diterima”, sedangkan Meksiko dan banyak negara lain mengecam pelanggaran terhadap hukum internasional serta menekankan pentingnya dialog dan solusi damai. Bahkan beberapa anggota Uni Eropa turut menyerukan deeskalasi dan menghormati Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Indonesia juga menyerukan semua pihak untuk mengutamakan penyelesaian damai melalui dialog dan perlindungan warga sipil, sambil menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional.
Situasi di Venezuela dan Tantangan Kekuasaan
Sementara itu, dalam kekosongan yang tiba-tiba setelah penangkapan Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodríguez mengklaim bahwa Maduro tetap Presiden Venezuela dan menolak legitimasi klaim AS. Pemerintah Venezuela menyatakan serangan tersebut sebagai “agresi militer yang sangat serius” dan ancaman terhadap kedaulatan negara serta keamanan regional.
Krisis ini memunculkan ketidakpastian besar mengenai masa depan pemerintahan Venezuela, posisi kekuatan militer dan milisi lokal, serta dampaknya pada stabilitas kawasan Amerika Latin.
Sementara itu, dalam kekosongan yang tiba-tiba setelah penangkapan Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodríguez mengklaim bahwa Maduro tetap Presiden Venezuela dan menolak legitimasi klaim AS.
Pemerintah Venezuela menyatakan serangan tersebut sebagai “agresi militer yang sangat serius” dan ancaman terhadap kedaulatan negara serta keamanan regional.(LAN/JUR/MS/ED)
