
Oleh: Lhynna Marlinna EFBE
BRANINEWS.ID -Tutup mata Anda dan bayangkan suasana perang kemerdekaan 1945. Apa yang Anda lihat di benak Anda?
Apakah Anda melihat ribuan rakyat jelata bertelanjang dada, berlari menerjang hujan peluru senapan mesin Belanda, hanya bermodalkan sebatang bambu yang diruncingkan? Jika bayangan itu yang mendominasi kepala Anda, maaf, saya harus membangunkan Anda dari tidur panjang yang memabukkan.
Anda adalah korban romantisme sejarah yang overdosis. Sebuah narasi berbahaya yang, tanpa sadar, justru mengerdilkan kecerdasan para pendiri bangsa ini.
Belakangan, muncul lagi suara-suara sumbang yang berteriak lantang di media sosial: “Kita merdeka karena bambu runcing, bukan senjata! Pejuang itu rakyat, bukan tentara PETA! Diplomasi itu menjilat penjajah!”
Pernyataan semacam ini terdengar heroik di permukaan, tapi sesungguhnya adalah penghinaan bagi strategi militer Jenderal Sudirman dan taktik politik Bung Karno.
Babak 1: Realita Mengerikan di Balik Mitos Bambu
Mari bicara fakta pahit yang jarang diajarkan di buku sekolah dasar.
Bambu runcing adalah simbol, catat: simbol dari keberanian rakyat yang sudah di titik nadir. Itu adalah senjata pilihan terakhir ketika tidak ada lagi yang bisa dipegang. Jiwanya suci, nyalinya tak terbantahkan.
Tapi, apakah bambu runcing yang mengusir tank Sherman dan pesawat Mustang milik Sekutu di Surabaya pada 10 November 1945? Jangan naif.
Pertempuran Surabaya menjadi neraka bagi pasukan Inggris pemenang Perang Dunia II, bukan karena mereka takut ditusuk bambu. Mereka tertahan berminggu-minggu karena arek-arek Suroboyo telah menjarah gudang-gudang senjata Jepang pasca-menyerah. Rakyat kita membalas tembakan dengan senapan Arisaka, menembakkan mortir, melemparkan granat, bahkan mengoperasikan beberapa artileri dan tank ringan rampasan.
Brigadir Jenderal Mallaby tidak tewas karena duel silat bambu. Ia tewas di tengah baku tembak sengit senjata api dan ledakan granat di Jembatan Merah. Mengatakan kita menang hanya modal bambu sama saja mengatakan pejuang kita melakukan misi bunuh diri massal tanpa strategi.
Babak 2: Siapa “Otak” di Balik “Otot” Rakyat?
Lalu muncul argumen konyol: “Pejuang itu rakyat dengan perlawanan daerah masing-masing, bukan tentara PETA!”
Ini adalah kedangkalan berpikir yang luar biasa. Benar, yang berjuang adalah rakyat. Tapi siapa yang mengorganisir semangat rakyat yang meledak-ledak itu menjadi kekuatan tempur yang efektif?
Siapa yang mengajari petani cara tiarap menghindari mortir? Siapa yang mengajari santri cara membentuk barikade kota? Siapa yang mengajari pemuda cara menyergap konvoi Belanda secara gerilya?
Mereka adalah para perwira didikan militer profesional. Mereka adalah alumni PETA (Pembela Tanah Air) bentukan Jepang, dan eks-KNIL bentukan Belanda. Jenderal Besar Sudirman adalah alumni PETA. A.H. Nasution adalah eks-KNIL.
Tanpa komando dan ilmu militer dari mereka, semangat rakyat hanya akan berakhir menjadi tumpukan mayat yang sia-sia di depan moncong meriam canggih Belanda. Semangat butuh strategi. Nyali butuh ilmu. Menafikan peran PETA dan tentara terlatih adalah tindakan ahistoris.
Babak 3: Diplomasi Bukan Menjilat, Itu Strategi Bertahan Hidup
Terakhir, tuduhan paling keji: menganggap langkah taktis para pemimpin kita bekerjasama dengan Jepang di masa pendudukan sebagai “menjilat”.
Pahamilah apa itu Realpolitik. Saat Jepang datang di 1942, mereka adalah mesin perang fasis yang baru saja melibas Pearl Harbor. Melawan mereka secara frontal saat itu berarti mengundang pembantaian massal seperti yang terjadi di Nanking, China.
Bung Karno dan Hatta memilih jalan pedang yang tipis: “Bekerjasama” di permukaan untuk menyelamatkan nyawa rakyat, sambil memanfaatkan fasilitas musuh untuk persiapan kemerdekaan.
Tanpa “kerjasama” taktis itu, Jepang tidak akan mengizinkan pembentukan PETA. Tanpa PETA, kita tidak punya cikal bakal TNI yang terlatih. Tanpa TNI, Revolusi Fisik 1945-1949 mungkin akan gagal total dalam hitungan bulan. Itu bukan menjilat; itu adalah strategi tingkat tinggi meminjam tangan musuh untuk memukul musuh berikutnya.
Epilog: Menghormati dengan Akal Sehat
Sudah saatnya kita berhenti mendongengkan sejarah bangsa sendiri dengan cara yang kekanak-kanakan.
Kita merdeka bukan karena keajaiban bambu yang bisa menembus baja tank. Kita merdeka karena perpaduan sempurna yang mematikan bagi penjajah: Nyali Rakyat yang Membara (disimbolkan bambu runcing) bertemu dengan Kecerdasan Strategi Militer dan Diplomasi para pemimpinnya.
Menghilangkan salah satu elemen itu, demi terlihat “sok paling heroik” di kolom komentar, adalah pengkhianatan terhadap keringat, darah, dan yang terpenting otak para pahlawan kita.(LM)
