
BRANINEWS.ID, INDONESIA-Pada November 2025 Moskow sesumbar siap membentengi Caracas dari ancaman asing, realitas di lapangan berkata lain saat Presiden Nicolas Maduro ditangkap paksa oleh pasukan khusus AS pada awal Januari 2026.
Faktor utama di balik “ketidakberdayaan” Rusia ini adalah kecepatan dan kerahasiaan operasi lawan. Serangan yang dilakukan oleh unit elit Delta Force berlangsung begitu senyap dan kilat.
Dunia internasional kini menyoroti sikap pasif Rusia ketika sekutu strategisnya, Venezuela, dilumpuhkan oleh operasi militer Amerika Serikat.
Operasi itu menutup celah bagi sekutu Venezuela untuk memobilisasi bantuan militer. Moskow praktis kehilangan momentum; segalanya terjadi terlalu cepat sebelum Kremlin sempat bereaksi secara fisik.
Selain faktor teknis, kalkulasi geopolitik yang realistis menjadi penentu. Melakukan konfrontasi militer langsung melawan AS di wilayah Amerika Latin sama saja dengan menyalakan sumbu Perang Dunia III.
Risiko ini dianggap terlalu besar, bahkan untuk menyelamatkan seorang sekutu kunci.
Alhasil, Rusia dan China kini hanya mampu menempuh jalur diplomatik, mengutuk keras tindakan Washington sebagai “agresi ilegal” dan menuntut pembebasan Maduro, tanpa berani mengambil langkah militer yang nyata.(AGRES/BBSM)

