
BRANINEWS.ID, INDONESIA-Secara tradisi, posisi KSAL (Kepala Staf Angkatan Laut) biasanya diisi oleh perwira dari Korps Pelaut (Pelaut/Layaran), bukan Marinir, karena KSAL bertanggung jawab atas seluruh operasi laut yang lebih luas, sementara Marinir spesialis operasi amfibi dan pendaratan pantai, meskipun Marinir sangat vital dan terintegrasi dalam TNI AL.
Alasan tradisi ini mirip dengan KSAU yang diisi penerbang, karena KSAL harus mengendalikan operasi laut secara keseluruhan, bukan hanya aspek tertentu, namun penunjukan tetap hak prerogatif presiden.
Penting
Spesialisasi Tugas: Marinir (KORMAR) adalah kekuatan tempur infanteri laut dan amfibi utama, berfokus pada operasi pantai dan pendaratan, di bawah komando langsung KSAL.
Lingkup Kewenangan KSAL: KSAL mengendalikan operasi laut secara lebih luas, termasuk mengintegrasikan berbagai bentuk operasi laut, yang secara historis lebih selaras dengan latar belakang Korps Pelaut.
Tradisi dan Kebutuhan Organisasi:Ada tradisi di mana posisi puncak di matra laut lebih sering diisi oleh Pelaut, serupa dengan penerbang di Angkatan Udara, karena dianggap memiliki pemahaman komprehensif terhadap seluruh spektrum operasi laut.
Pangkat Tertinggi: Pangkat tertinggi yang dicapai perwira Marinir adalah Letnan Jenderal (Bintang Tiga), namun KSAL adalah Jenderal Bintang Empat (Laksamana), yang secara struktural lebih tinggi.
Karier dan Politik
Pada akhirnya, penunjukan KSAL adalah hak prerogatif Presiden, yang memilih kandidat paling sesuai, meskipun tradisi seringkali menjadi pertimbangan kuat.
Jadi, BUKAN KARENA MARINIR TIDAK MAMPU, tetapi karena peran dan fokus mereka yang spesifik dalam struktur komando Angkatan Laut, serta tradisi yang cenderung menempatkan perwira Pelaut di puncak karena tanggung jawab yang lebih luas terhadap keseluruhan kekuatan laut.(DIK/ED)

