
BRANINEWS.ID, INDONESIA- Nama Jenderal TNI (Purn.) Djoko Santoso bukan sekadar tercatat dalam lembaran sejarah militer Indonesia ia adalah sosok yang menorehkan jejak panjang, penuh dedikasi, disiplin, dan kepemimpinan yang memikat hormat para prajurit maupun rakyat.
Lahir dari satuan Infanteri, Djoko Santoso memulai masa dinasnya pada 1975, dan dalam rentang 35 tahun pengabdiannya, ia menjelma menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di tubuh TNI Angkatan Darat.
Pangdam Pattimura: Titik Balik yang Menggema Nasional
Nama Djoko Santoso mulai benar-benar bersinar ketika ia memikul amanah sebagai Panglima Kodam XVI/Pattimura sekaligus Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) pada tahun 2002—2003.
Di tengah kobaran konflik horizontal yang mengkoyak Maluku, Djoko tampil sebagai figur penenang badai.
Dengan strategi keamanan yang terukur, pendekatan dialog yang humanis, serta penguasaan medan yang matang, ia berhasil meredam gejolak dan memulihkan rasa aman masyarakat.
Langkah-langkahnya dipuji sebagai operasi pemulihan keamanan yang paling efektif pada masa reformasi awal.
Karier Melonjak Cepat: Dari Kodam Jaya hingga Puncak TNI
Setelah keberhasilannya di Maluku, langkah Djoko seperti didorong oleh gelombang kepercayaan besar dari negara:
Pangdam Jaya (2003) — Memimpin komando strategis yang menjaga jantung ibu kota.
Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (2003) — Jabatan tinggi yang menunjukkan pengakuan atas kecakapan taktis dan administratifnya.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) – 2005 — Mengendalikan seluruh kekuatan AD di tingkat tertinggi.
Panglima TNI – 2007–2010 — Puncak tertinggi karier militer Indonesia.
Sebagai Panglima TNI, Djoko dikenal sebagai sosok yang tegas, tenang, dan sangat menghargai kehormatan prajurit. Ia menekankan disiplin, profesionalisme, dan modernisasi, membawa TNI memasuki fase baru yang lebih adaptif terhadap tantangan global.
Warna Kepemimpinan: Santun, Tegas, dan Rendah Hati
Meski memegang jabatan setinggi langit, Djoko Santoso dikenal rendah hati dan sangat dekat dengan anak buah. Prinsipnya sederhana namun kuat:
“Prajurit harus menjaga kehormatan, karena itu adalah pakaian yang tidak boleh dilepas.”
Kepribadiannya yang hangat berpadu dengan ketegasan seorang pemimpin infanteri membuatnya dihormati lintas generasi prajurit.(BBS/WKP/BRA)
