Oleh: Lhynna Marlinna

BOGOR ,BRANINEWS.ID-Tatapan Sudrajat (50) masih kosong. Pria paruh baya ini biasanya menjajakan nostalgia lewat potong-potong es gabus warna-warni. Namun, Sabtu (24/1) lalu, nostalgia itu berubah menjadi mimpi buruk di Kemayoran.

Bukan rezeki yang ia dapat, melainkan bogem mentah. Ironisnya, perlakuan itu datang dari mereka yang berseragam: oknum Bhabinkamtibmas dan Babinsa.

“Saya Ditendang Pakai Sepatu Bot…”

Siang itu, Sudrajat dipanggil aparat. Ia pikir dagangannya laku.

“Bang, beli empat,” kenangnya.

Tapi es itu tidak dimakan. Es itu diremas, dibejek-bejek, lalu dilemparkan kembali ke wajahnya.

Tuduhannya fatal namun konyol: Es gabus itu dituduh terbuat dari SPONS, bukan tepung hunkwe.

Di tengah kerumunan, martabat Sudrajat dilucuti.

“Saya digampar, ditonjok. Saya sampai terpental ditendang pakai sepatu bot. Disuruh berdiri satu kaki, disabet selang, sampai diancam diminumi air comberan,” ungkapnya dengan suara bergetar (27/1).

Sebuah hukuman jalanan tanpa pengadilan, hanya karena ketidaktahuan aparat membedakan tekstur tepung beku dan busa.

Maaf Setelah Terbukti Tak Bersalah

Kebenaran akhirnya terungkap lewat Sains, bukan Otot.

Hasil uji Laboratorium Polres Metro Jakpus keluar mutlak: NEGATIF. Es gabus itu aman. Tidak ada spons, tidak ada bahan berbahaya. Itu murni es kue jadul.

Nasi sudah menjadi bubur. Aipda Ikhwan dan Heri (oknum aparat) akhirnya muncul meminta maaf, mengakui mereka “terburu-buru”.

Luka yang Tak Mudah Sembuh

Maaf mungkin sudah terucap. Tapi bagi Pak Sudrajat, trauma itu membekas dalam. Ia kini takut kembali mengais rezeki di sana. Bayangan sepatu bot dan ancaman air comberan masih menghantui langkahnya.

Kasus ini adalah cermin retak penegakan hukum kita di level akar rumput:

Ketika “Praduga Tak Bersalah” mati di tangan arogansi, dan rakyat kecil harus babak belur dulu hanya untuk membuktikan bahwa dagangannya halal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *