
Oleh: Gemah Ripah Loh Jinawi
BRANINEWS.ID, INDONESIA-Pancasila kini seperti mantra yg diucap tergesa, tak lagi dipahami maknanya. Ia hadir di dinding dinding kekuasaan tapi absen diperut rakyat.
Falsafah hidup itu diperlukan seperti dekorasi indah dari jauh hampa saat disentuh. Di negeri ini yang sakral dikemas rapi agar tak mengganggu transaksi.
Burung garuda berdiri limbung ditengah reruntuhan makna. Warna emasnya pudar terkelupas oleh tangan tangan rakus yang tak pernah kenyang.
Matanya merah bukan oleh debu zaman, melainkan oleh kebohongan yg setiap hari dipelihara. Ia menangis tapi air matanya dianggap gangguan kekuasaan.Bulu-bulunya rontok seperti daun kering dimusim perampasan.
Setiap helai jatuh bersamaan dengan lenyapnya gunung, hutan dan isi perut bumi yang dijual atas nama kemajuan. Tanah dibedah, urat urat alam disayat lalu ditinggalkan seperti bangkai.
Garuda hanya menyaksikan tak lagi punya paruh untuk mencengkeram keadilan.
Garuda itu masih dipuja di upacara dan pidato. Di elu-elukan dalam lagu, dicetak diseragam, dipajang dikantor kantor megah. Diluar itu ia bibiarkan berdarah sendirian. Lambangnya dirawat, jiwanya dibiarkan membusuk.
Ia tak kuat lagi terbang membawa cita cita bangsa ke angkasa.
Sayapnya gemetar, tubuhnya condong ke bumi yang telah dirampas dari anak cucu. Ia melayang rendah nyaris jatuh sambil terus menangis. Tangis yang tak dicatat, tak dilaporkan, tak dianggap penting.
Dan disanalah ironi paling kejam bersemayam. Sebuah bangsa yang mengaku menjunjung nilai luhur, sambil sibuk menanggalkan satu per satu.
Garuda tetap hidup sebagai simbol namun mati sebagai penuntun. Ia menangis bukan karena lemah, melainkan terlalu lama setia kepada bangsa yang lupa cara setia.(**)
