BRANINEWS.ID, INDONESIA
Kata sebuah tulisan dari akun Facebook Lambertus Suwiryo menyoal ruwetnya persoalan hukum ijazah Jokowi.Bayangkan sebuah republik yang fondasi legitimasinya bergantung pada satu lembar kertas bernama ijazah.

Bukan karena nilai akademiknya, melainkan karena kejujuran di balik asal-usulnya.
dugaan paling sensitif dalam sejarah politik Indonesia modern: Seperti unggahan akun Facebook Lambertus Suwiryo yang terpantau media ini,5/2/2026 pukul 00.00 WIB,menyoal dan menuliskan kegaduhan dugaan ijazah palsu Jokowi.

Apakah ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, benar-benar miliknya—atau dipinjam dari iparnya sendiri, almarhum Hari Mulyono?
Isu ini mencuat setelah pernyataan mantan Rektor UGM, Sofian Effendi, yang menyebut adanya kejanggalan serius dalam data akademik Jokowi saat menempuh studi di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.

Dari IPK, status kelulusan, skripsi yang disebut tak pernah diuji, hingga dugaan identitas akademik yang tumpang tindih—semuanya dibedah secara kritis.
jika kebenaran ingin dibuktikan, anak-anak almarhum Hari Mulyono dapat dihadirkan sebagai saksi moral.

Ini bukan hal mustahil. Ini bisa saja terjadi,jika hukum benar-benar ingin terang.
Seperti pernyataan tegas mantan Menkopolhukam Mahfud MD adalah sinyal terang menjadi titik tekan utama, ” Di pengadilan tidak ada istilah “identik”.
Yang ada hanya dua kemungkinan, asli atau palsu.
Jika ijazah itu asli tunjukkan.
Jika palsu hadapi konsekuensinya.
Karena yang menghancurkan republik bukan tuduhan,
melainkan ketakutan penguasa untuk membuktikan diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *