
JOGYAKARTA, BRANINEWS.ID–Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto Mahasiswa UGM asal Kudus Jateng menerangkan teror yang menyasar kepadanya.Teror juga dialami anggotanya yang kini menjadi isu publik rupanya masih terjadi. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), dan UGM.
Ancaman teror yang diterima Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto semakin meluas. Tidak hanya Tiyo dan orang tuanya yang mendapat teror, lebih dari 40 pengurus BEM UGM yang turut mendapat teror dari nomor tidak dikenal.Bahkan orang tua pengurus BEM UGM lain juga mendapat teror serupa.
Nama Mahasiswa yang lahir di Kudus 26 April itu menjadi sorotan publik setelah ia mengaku mengalami teror usai menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Ketua BEM KM UGM periode 2025 2026 tersebut menyuarakan kasus bunuh diri seorang anak SD di NTT yang diduga tak mampu membeli alat tulis sekolah.
Kritik yang dilayangkan Tiyo tidak hanya ditujukan pada kebijakan pendidikan, tetapi juga dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ia bahkan mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyoroti persoalan tersebut sebagai kegagalan sistemik negara dalam melindungi hak anak.
Tak lama setelah kritik itu disuarakan, Tiyo mengaku mengalami penguntitan dan teror hingga ancaman penculikan. Berikut profil lengkap dan perjalanan aktivisme Tiyo Ardianto sebagai Ketua BEM KM UGM.
Ketua BEM UGM juga tidak percaya kepada Polisi, Sebab ketidakpercayaan pada institusi Polri telah menjadi alasan BEM UGM dan tidak ingin melaporkan teror.
Peristiwa itu justru semakin menguatkan keraguan BEM UGM untuk melaporkan teror ke kepolisian.
Meski banyak dorongan untuk melapor ke aparat penegak hukum, namun BEM UGM masih enggan menempuh jalur hukum.
Tiyo mencontohkan ,apalagi ada seorang anak di Tual, Maluku yang pada Kamis (19/2/2026) meninggal dunia seusai dianiaya oleh anggota Brimob Polda Maluku.
“Dasarnya teror yang terjadi itu tidak berimbas apa-apa kepada kami, kami akan senantiasa melawan, senantiasa akan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat,” katanya saat ditemui di UII Cik Di Tiro, Minggu (22/2/2026).
“Justru terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena justru persaudaraan diantara teman-teman BEM UGM semakin solid. Karena punya nasib yang sama, yaitu menjadi korban dari teror nomor-nomor yang tidak dikenal,” sambungnya dia lagi,
“Untuk melaporkan ini ke pihak kepolisian, itu juga menjadi satu keraguan bagi kami. Karena baru terjadi kemarin, seorang polisi yang membunuh rakyat Indonesia, membunuh anak bangsa Indonesia. Lalu dengan situasi seperti ini, kita akan minta tolong ke polisi? Rasanya kemanusiaan kami justru dipertanyakan. Karena teror ini masih sebatas digital, sehingga justru kami tidak mau disibukan dengan itu,”ungkap Tiyo.
Tiyo justru menduga ada penyusup dari pihak tertentu yang sengaja dimasukkan ke dalam kepengurusan BEM UGM yang besar. Dia menyebut pengurus BEM UGM terdiri dari 600 mahasiswa, sementara jika ditambah relawan kepanitiaan hampir 1.000.
“Ada yang sempat menduga, jangan-jangan karena di LinkedIn atau di medsos menyampaikan bahwa dia adalah BEM UGM.
Indikasi itu muncul lantaran ketidakjelasan alasan teror yang menyerang 40an pengurus BEM UGM. “Dari sekian nomor yang ada, kenapa hanya 40? Kami masih lacak kira-kira penyebabnya apa,” ujarnya.(DJODI/TJ Red)
