
PATI, BRANINEWS.ID–Ketua Tanfidziyah PCNU Pati, KH Yusuf Hasyim, menegaskan bahwa takbiran di malam Idulfitri adalah momen untuk mengagungkan asma Allah, bukan ajang hura-hura yang berpotensi mengganggu masyarakat. Ia mengimbau agar takbiran dilakukan secara khidmat di masjid atau musala bersama warga.
Esensi takbir itu mengagungkan asma Allah. Jangan sampai makna takbiran kemudian bergeser menjadi kegiatan yang justru keluar dari nilai-nilai ajaran Islam,” jelasnya (15/3/2026).di lansir dari Nu Online.
Jika tetap ingin melakukan takbir keliling, PCNU menyarankan cukup di lingkungan desa masing-masing agar tidak mengganggu ketertiban umum.
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menyatakan keberatan terhadap penggunaan sound horeg dalam takbir keliling. PCNU menilai fenomena tersebut sudah melenceng dari tradisi dan nilai Islam yang seharusnya mengedepankan kekhusyukan.
Sebelumnya, informasi yang diterima media ini,warga Dukuh Kaliampo RT 06/01, Wangunrejo menuruti kehendak Reza dengan memungut paksaan Rp 100 ribu setiap KK.
Tarikan pungutan tersebut, tidak sesuai dengan kondisi ekonomi memburuk di negeri ini, bahkan kabar yang diterima awak media,sebagian warga menolak tanggapan Sound Horeg.
Meski demikian alasan warga RT 06/01 Kaliampo yang aneh aneh hendak menggunakan sound horeg dalam rangka takbir keliling desa menyambut datangnya hari raya Idulfitri 1447 H.(Padahal Kisi dari NI dengan sikap tegas melarang Sound Horeg.GUSJIGANG)
