
Laporan : Malika Dwi A
BRANINEWS.IID-Perang AS-Israel vs Iran (2026) bisa dilihat sebagai perang peradaban dalam kerangka tesis Samuel Huntington, The Clash of Civilizations (1993/1996). Huntington berargumen bahwa setelah Perang Dingin, konflik global tidak lagi ideologis (kapitalisme vs komunisme) atau ekonomi, melainkan antara peradaban yang berbeda secara budaya, agama, nilai, dan identitas historis. Peradaban utama yang ia identifikasi termasuk Barat (Kristen-Protestan sekuler), Islam, dan lainnya.
Mengapa Perang Ini Cocok Disebut Clash of Civilizations?
- Identitas Peradaban yang Bertabrakan
- Barat (AS + Israel): Mewakili peradaban Barat (Western Civilization) — asal dari nilai-nilai liberal, sekuler, demokrasi, hak individu, kapitalisme global, supremasi hukum internasional versi Barat, dan sekularisme. Israel, meski negara Yahudi, dianggap bagian Barat karena sekutu strategis AS, nilai demokrasi liberal, dan orientasi teknologi-militer Barat.
- Iran: Mewakili peradaban Islam (Islamic Civilization) — khususnya Islam Syiah revolusioner. Iran sejak 1979 menjadikan ideologi Islam Syiah (wilayat al-faqih) sebagai dasar negara, anti-imperialisme Barat, anti-Zionisme, dan penolakan sekularisme liberal. Iran melihat diri sebagai pembela umat Islam global, terutama Palestina.
- Konflik Bukan Sekadar Politik/Minyak, Tapi Identitas & Nilai
Huntington mengatakan bahwa konflik antar-peradaban sering terjadi di fault lines (garis patahan), dan Timur Tengah adalah salah satu fault line utama antara Barat dan Islam.
- AS-Israel ingin dunia tunduk pada nilai-nilai Barat: yakni demokrasi liberal, hak asasi versi Barat(misal LGBT dan seterusnya), non-proliferasi nuklir (kecuali Israel sendiri), dan dominasi dolar/petrodolar.
- Iran ingin dunia Islam bangkit melawan dominasi Barat: tolak hegemoni AS, dukung perlawanan Palestina, tolak sekularisme, dan dorong sistem internasional multipolar (BRICS, non-dolar).
- Bukti dalam Perang 2026
- Serangan AS-Israel (28 Februari 2026) bukan hanya soal nuklir atau minyak, tapi juga budaya & simbol: membunuh Khamenei (simbol revolusi Islam), dan menghancurkan fasilitas yang jadi kebanggaan identitas Iran.
- Balasan Iran (rudal ke pangkalan AS, drone ke Israel) bukan cuma militer, tapi pernyataan peradaban: “Kami tidak akan tunduk pada hegemoni Barat!”.
- Proxy Iran (Hizbullah, Houthi) serang balik dengan narasi “jihad melawan Zionis & imperialis” — sangat sesuai fault line Islam vs Barat.
- Kritik terhadap Tesis Huntington
Meski cocok, tesis ini ada kekurangannya, karena terlalu simplistik dan esensialis (menganggap peradaban itu homogen dan sebagai konflik tak terelakkan). Di Iran sendiri, banyak yang menolak perang ini karena ekonomi & korban kebanyakan di pihak sipil, bukan karena “Islam vs Barat”. Di AS pun, banyak warga (terutama Gen Z) menolak perang ini karena alasan kemanusiaan, bukan karena “Barat vs Islam”. Jadi, ini bukan clash of civilizations yang murni peradaban, tapi juga geopolitik minyak, ditambah hegemoni dolar + politik domestik yang dibungkus dengan narasi peradaban.
Namun jangan lupa: di balik narasi peradaban, ada follow the oil dan follow the dollar. AS ingin pertahankan petrodolar dan kendali minyak dunia, Israel ingin keamanan eksistensial, Iran ingin kedaulatan dan perlawanan terhadap hegemoni Barat.
Yang kalah bukanlah peradaban, tapi rakyat sipil di semua pihak,termasuk kita di Indonesia yang kena getah harga minyak naik dan inflasi gila-gilaan.
Dan jika para Buzzer bilang “ini perang agama” atau “Iran jahat” sebenarnya mereka ikut memainkan narasi Huntington yang disederhanakan. Padahal realitasnya lebih kompleks: Ini perang kekuasaan, minyak, dan identitas yang dibungkus agama. Indonesia? Jangan puas menjadi pion,belajar dari ketahanan Iran, bukan ikut-ikutan polarisasi yang menguntungkan elite.
Jadi, perang AS-Israel vs Iran 2026 boleh merujuk pada tesis Huntington ,bentrokan peradaban Barat (liberal-sekuler-hegemonik) vs Islam Syiah revolusioner (anti-imperialisme, anti-Zionisme).
