BRANINEWS.ID–Sejumlah lembaga seperti BRIN dan BMKG juga memperkuat prediksi menentukan hari raya Idulfitri dengan menyebut posisi hilal belum memenuhi standar visibilitas MABIMS.

Jika kondisi ini tidak berubah, maka Ramadan berpotensi disempurnakan menjadi 30 hari, sementara penetapan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah.

Pengamatan menunjukkan ketinggian hilal masih terlalu rendah di sebagian besar wilayah Indonesia, meski di beberapa titik seperti Sabang mendekati batas minimal.

Lembaga Falakiyah PBNU menyatakan posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H masih belum memenuhi kriteria imkan rukyah, sehingga potensi besar Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Pemerintah Arab Saudi resmi menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 setelah hilal tidak terlihat saat pemantauan. Artinya, Ramadan disempurnakan jadi 30 hari—sesuai metode rukyat yang jadi acuan utama. Keputusan ini langsung berdampak ke berbagai negara yang kerap menjadikan Arab Saudi sebagai rujukan, meski tiap negara tetap punya metode penentuan sendiri.

Di sisi lain, pemerintah setempat juga sudah mengatur libur Lebaran lebih awal demi kepastian bagi pekerja dan perusahaan. Tapi yang selalu jadi perdebatan tiap tahun: apakah penentuan seperti ini sebaiknya seragam di seluruh dunia, atau tiap negara tetap pakai metode masing-masing ?( BBS,)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *