
BRANINEWS.ID–Para analis militer menyebut bahwa Pentagon tidak akan mampu mengirimkan bantuan yang cukup ke Pasifik tanpa menarik pasukan dari Timur Tengah, sebuah celah keamanan yang sangat mungkin dimanfaatkan oleh Tiongkok untuk mengubah status quo secara permanen.
Selat Taiwan memegang peran vital bukan hanya secara politik, tetapi sebagai urat nadi ekonomi digital dunia. Jika Beijing melakukan blokade atau invasi saat konsentrasi AS terpecah di Selat Hormuz, pasokan semikonduktor global akan terhenti seketika, memicu depresi ekonomi yang jauh lebih hebat dari krisis mana pun dalam sejarah modern.
Amerika Serikat kini berada dalam titik nadir strategis yang sangat berbahaya. Laporan terbaru memperingatkan bahwa militer AS yang saat ini terjebak dalam perang melawan Iran di Timur Tengah akan mengalami kelumpuhan total atau “runtuh” jika Tiongkok memutuskan untuk menyerang Selat Taiwan secara simultan.
Pada Maret 2026, Washington menghadapi risiko nyata dari perang dua front yang melampaui kapasitas logistik dan jumlah armada tempur yang mereka miliki saat ini.
Situasi ini menjadi mimpi buruk bagi pemerintahan Trump, di mana hegemoni AS diuji oleh aliansi informal antara Teheran dan Beijing. Ketergantungan global pada stabilitas kedua selat tersebut membuat dunia berada di ambang kekacauan total.
Jika AS gagal mengelola ketegangan di salah satu front, dampaknya tidak hanya berupa kekalahan militer, tetapi juga keruntuhan sistem keuangan dan supremasi politik Washington di mata internasional tahun 2026 ini.( TING //NTR)
