
BRANINEWS.ID–Langkah Iran memblokade Selat Hormuz benar-benar memukul ekonomi global.Jalur urat nadi minyak dunia ini kini berada dalam genggaman Teheran sejak serangan gabungan AS-Israel pada akhir Februari lalu.
Akibatnya, harga minyak mentah Brent terbang ke angka US$104 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Trump kini berada dalam posisi terjepit. Di satu sisi, ia didesak mengakhiri perang demi menstabilkan harga energi, namun di sisi lain, ia melontarkan pernyataan kontroversial dengan “lepas tangan” soal keamanan Selat Hormuz.
Meski AS telah menawarkan proposal damai 15 poin, Iran bersikeras dengan syarat kedaulatan penuh atas wilayah perairannya. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengaku sudah menyerah dengan kesepakatan damai Iran. Trump mengklaim bahwa militer AS akan segera mengakhiri perang dengan Iran dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan.
Menariknya, ia menyebut perdamaian bisa terjadi tanpa perlu adanya kesepakatan formal dengan Teheran.
“Kami akan segera pergi,” kata Trump kepada wartawan pada Selasa (31/3/2026), mengutip Reuters. “Mungkin dua minggu, atau paling lama tiga minggu,” lanjutnya lagi.
Sikap yang santai Trump ini terbilang kontras dengan gertakannya sehari sebelumnya. Lewat akun Truth Social miliknya, Trump sempat mengancam akan meratakan infrastruktur vital Iran, mulai dari pembangkit listrik hingga kilang minyak di Pulau Kharg, jika Selat Hormuz tak segera dibuka.
Namun kini, Trump menegaskan bahwa “Operasi Epic Fury” tidak harus berakhir di meja perundingan.
“Iran tidak harus membuat kesepakatan dengan saya. Tidak perlu,” tegasnya.
Meski Trump bicara soal penarikan pasukan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memberikan catatan tambahan. Hegseth menyebutkan bahwa meski opsi diplomasi terus menguat, militer AS tetap pasang badan jika Iran membangkang.
“Opsi kami makin banyak, sementara mereka makin terdesak,” ujar Hegseth.
Konflik yang sudah berjalan sebulan ini telah memicu krisis energi global dan menewaskan ribuan orang.Iran sendiri tidak tinggal diam dan mengancam akan memboikot hingga menyerang kepentingan perusahaan teknologi raksasa AS seperti Google, Apple, hingga Tesla.
Menanggapi gertakan balik itu, Trump hanya berujar singkat, “Mereka sudah tidak punya apa-apa lagi untuk mengancam kita”.
Iran menyerang Kapal Tanker dan Bandara Qatar, Iran meluncurkan serangan fajar yang menargetkan Bandara Internasional Kuwait dan sebuah kapal tanker di lepas pantai Qatar, Rabu (1/4/2026).
Aksi nekat Teheran ini terjadi di tengah pernyataan Trump yang akan segera mengakhiri perang dengan Iran.
Selain itu, Iran juga tak menunjukkan tanda-tanda akan segera membuka kembali Selat Hormuz meskipun Trump sudah menyerah. “Itu bukan urusan kami. Biarkan Prancis atau negara pengguna lainnya yang menjaga jalur itu tetap terbuka,” cetus Trump kepada awak media, sebagaimana dikutip dari AP News.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pihaknya telah menerima pesan dari utusan khusus AS, Steve Witkoff.
Meski demikian, Araghchi menegaskan bahwa kepercayaan Iran terhadap AS sudah mencapai titik nol.
“Kami tidak takut. Jika mereka mencoba serangan darat, kami sudah menunggu. Iran tahu betul cara membela diri,” tegas Araghchi melalui saluran Al Jazeera.( JHONR)
