
BRANINEWS.ID –Lahir di Malang, Jawa Timur, pada 24 Maret 1952, lulusan Akabri 1975 ini dikenal sebagai perwira yang dingin, taktis, dan memiliki ketajaman analisis luar biasa. Meski berpulang di usia yang relatif muda, jejak pengabdiannya tertanam kuat di jantung pendidikan pasukan khusus Indonesia.
Dalam sejarah Komando Pasukan Khusus (Kopassus), nama Amirul Isnaini menempati posisi terhormat sebagai salah satu pakar intelijen terbaik yang pernah dimiliki korps baret merah.
Awal Karier: Meniti Tangga di Dunia Senyap
Amirul Isnaini adalah “anak kandung” Kopassus. Sejak berpangkat Letnan Dua pada tahun 1975, ia hampir menghabiskan seluruh masa kedinasannya di lingkungan baret merah, khususnya di bidang intelijen. Ia pernah menjabat sebagai Komandan Satgas Intelijen (SGI) di berbagai medan operasi sulit, mulai dari Operasi Seroja di Timor-Timur hingga penugasan di Papua (Satgas Cendrawasih).
Kemampuannya dalam mengolah informasi dan strategi lapangan membuatnya dipercaya menduduki posisi strategis, termasuk sebagai Dan Pusintelad dan Wadan Paspampres di masa-masa krusial transisi kepemimpinan nasional pada tahun 1998.
Titik Balik: Menakhodai Korps Baret Merah
Puncak kariernya tercapai pada 4 Juli 2000, ketika ia dilantik menjadi Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus ke-18. Menjabat di era reformasi yang penuh tantangan, Amirul dikenal sebagai pemimpin yang berusaha menjaga profesionalisme prajurit. Selepas dari Cijantung, ia dipercaya memimpin komando kewilayahan sebagai Pangdam VII/Wirabuana di Sulawesi dan terakhir sebagai Panglima Kodam IV/Diponegoro di Jawa Tengah.
Penghormatan Abadi: Kesatrian Amirul Isnaini
Sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan jasa-jasanya, TNI Angkatan Darat mengabadikan namanya menjadi “Kesatrian Amirul Isnaini” yang berlokasi di Pusdiklatpassus Daun Lumbung, Cilacap.
Tempat ini merupakan kawah candradimuka bagi para prajurit terpilih yang menempuh pendidikan komando. Nama beliau dipilih untuk menginspirasi para calon prajurit baret merah tentang arti kesetiaan, kecerdasan strategi, dan ketangguhan seorang perwira.
Akhir Perjalanan Sang Jenderal
Mayor Jenderal TNI Amirul Isnaini wafat pada 8 Juni 2003 di Singapura setelah berjuang melawan penyakit liver yang dideritanya. Beliau berpulang saat masih menjabat sebagai Pangdam IV/Diponegoro, sebuah kehilangan besar bagi TNI AD. Beliau dimakamkan dengan penghormatan penuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Meski raganya telah tiada, namanya akan selalu menggema di setiap aba-aba dan derap langkah prajurit yang menempuh pendidikan di Kesatrian Amirul Isnaini menjaga semangat intelijen dan komando tetap hidup di sanubari setiap prajurit baret merah.( PTLK)
