
BRANINEWS.ID–Analisis intelijen strategis memprediksi konflik Israel–AS melawan Iran segera memasuki fase terminal. Penilaian ini tidak hanya didasarkan pada kerusakan fisik, tetapi pada indikator klasik seperti kesatuan komando (unity of command), titik berat kekuatan (center of gravity), dan moralitas penduduk.
Ketika indikator ini menunjukkan hilangnya kemampuan operasional yang efektif, arah strategis peperangan sudah dapat diperkirakan menuju penutupan.
Faktor utama yang memicu fase ini adalah lumpuhnya sistem komando dan kendali (C2) akibat serangan udara intensif. Kerusakan pada pusat saraf militer dan jaringan komunikasi menyebabkan disorganisasi pasukan serta fragmentasi komando di lapangan.
Kondisi ini membuat serangan balasan strategis menjadi sangat terbatas seperti dilansir dari kilat.com dan cenderung hanya bersifat inersia dari rencana lama, bukan lagi mencerminkan kemampuan tempur baru yang terkoordinasi.
Secara taktis, gangguan pada sistem komando mengakibatkan setiap unit militer bergerak sendiri-sendiri demi keselamatan lokal, sehingga efektivitas perang secara keseluruhan menurun drastis.
Di sisi lain, dimensi sosial dan politik turut melemah; tekanan ekonomi yang berat dan penderitaan yang berkepanjangan membuat dukungan rakyat terhadap perang menyusut, di mana masyarakat lebih memprioritaskan stabilitas daripada kemenangan militer.
Pada akhirnya, perang bergerak menuju de-eskalasi, ketika biaya konflik terlalu tinggi dan kerusakan militer sudah signifikan. Munculnya indikator degradasi sistem kendali, dominasi udara pihak lawan, serta kuatnya tekanan diplomatik internasional memaksa pihak-pihak yang bertikai, untuk mencari solusi melalui perundingan.
Hal ini menandai pergeseran tujuan dari kemenangan mutlak menuju penghentian konflik demi menghindari eskalasi regional yang lebih luas.( K.C)
