Laporan : Lhynna Marlinna

CARACAS,4 Januari 2026 – Langit di atas Istana Miraflores masih diselimuti asap hitam tebal pada Minggu pagi ini, menjadi saksi bisu dari operasi militer presisi yang dilancarkan Amerika Serikat pada Sabtu malam (3/1). Dalam waktu kurang dari 12 jam, rezim Nicolás Maduro yang telah bertahan lebih dari satu dekade, runtuh.

Operasi “Andean Storm”

Menurut sumber intelijen yang dihimpun di lapangan, operasi yang diberi sandi Andean Storm (Badai Andes) ini dimulai tepat pukul 23.00 waktu setempat. Serangan tidak diawali dengan invasi darat skala besar, melainkan serangan siber masif yang melumpuhkan jaringan komunikasi militer Venezuela dan sistem pertahanan udara S-300 buatan Rusia yang menjaga Caracas.

Lima belas menit setelah pemadaman total (blackout) melanda ibu kota, unit pasukan khusus AS (US Special Forces) dilaporkan melakukan penyusupan udara (air assault) langsung ke halaman Istana Miraflores dan Fuerte Tiuna—markas besar militer Venezuela.

Detik-Detik Penangkapan

Saksi mata di sekitar distrik Libertador melaporkan mendengar rentetan tembakan senjata otomatis dan ledakan granat kejut selama kurang lebih 45 menit. Perlawanan dari Guardia de Honor (Garda Kehormatan Presiden) dilaporkan sengit namun singkat.

“Kami melihat helikopter hitam tanpa lampu mendarat di atap istana. Tidak lama kemudian, mereka terbang kembali. Itu sangat cepat,” ujar Miguel Rodriguez (34), warga setempat yang menyaksikan kejadian dari apartemennya.
Pentagon, dalam konferensi pers darurat di Washington D.C. beberapa jam lalu, mengonfirmasi bahwa Nicolás Maduro telah “diamankan” dan kini berada dalam tahanan militer AS di lokasi yang dirahasiakan di luar wilayah Venezuela.

Alasan Washington
Gedung Putih menyatakan bahwa operasi ini adalah “tindakan yang tak terelakkan” menyusul laporan intelijen terbaru mengenai rencana Maduro untuk memobilisasi senjata strategis yang mengancam stabilitas hemisfer barat, serta krisis kemanusiaan yang mencapai titik nadir pada akhir 2025.
“Ini bukan invasi, ini adalah pembebasan,” ujar Juru Bicara Gedung Putih. “Kami bertindak untuk mengembalikan kedaulatan kepada rakyat Venezuela yang telah lama dibungkam.”

Reaksi Global dan Gejolak Lokal

Jatuhnya Maduro memicu reaksi keras dari sekutu tradisional Venezuela. Moskow dan Beijing pagi ini mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras tindakan AS sebagai “pelanggaran hukum internasional yang memalukan” dan memperingatkan adanya “konsekuensi geopolitik yang serius.”
Sementara itu, jalanan Caracas terbelah. Di distrik Altamira, ribuan oposisi turun ke jalan merayakan jatuhnya rezim sambil mengibarkan bendera tujuh bintang. Namun, di kawasan barrios (pemukiman miskin) yang menjadi basis loyalis Chavista, kemarahan memuncak. Kelompok paramiliter Colectivos dilaporkan mulai memblokade jalan dan bersiap melakukan perlawanan gerilya.

Vakum Kekuasaan

Dengan Maduro ditahan dan petinggi militer Venezuela yang terpecah sebagian menyerah, sebagian melarikan diri. Venezuela kini menghadapi kekosongan kekuasaan yang berbahaya. Belum ada kejelasan siapa yang akan memegang kendali transisi, apakah tokoh oposisi yang selama ini diasingkan, atau pemerintahan junta militer sementara di bawah pengawasan AS.

Harga minyak dunia dilaporkan melonjak 15% pada pembukaan pasar Asia pagi ini, merespons ketidakpastian pasokan dari negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia tersebut.

Bagi rakyat Venezuela, hari Minggu ini bukan hanya akhir pekan biasa, melainkan awal dari ketidakpastian baru: apakah ini fajar demokrasi, atau awal dari perang saudara yang panjang?

(Laporan Tim Investigasi Internasional – Biro Amerika Latin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *