BRANINEWS.ID-Kisah hidup Jenderal A.M. Hendropriyono mengajarkan kepada kita bahwa seorang prajurit tidak hanya harus tangguh di medan laga, tetapi juga harus tajam secara intelektual. Beliau adalah kebanggaan Indonesia yang namanya akan selalu tercatat dalam sejarah militer dan intelijen dunia.

Dunia intelijen seringkali identik dengan kerahasiaan, operasi senyap, dan dunia “abu-abu”. Namun, di tangan sosok jenderal yang satu ini, intelijen tidak hanya dipandang sebagai praktik lapangan, melainkan diangkat menjadi sebuah disiplin ilmu yang memiliki kedalaman filosofis.

Ia adalah Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dr. (HC) H. Abdullah Mahmud Hendropriyono. Nama yang sudah melegenda di jagat militer Indonesia ini berhasil menorehkan tinta emas yang diakui dunia: menjadi Guru Besar (Profesor) bidang Ilmu Filsafat Intelijen pertama di dunia.

Rekor MURI mencatat Profesor Intelijen Pertama di Dunia,pencapaian ini bukanlah kaleng-kaleng. Pengukuhan Hendropriyono sebagai guru besar pada 7 Mei 2014 silam mencatatkan namanya dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Mengapa ini luar biasa? Karena beliau adalah orang pertama,bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia yang secara formal diakui sebagai profesor yang menggali akar filosofis dari kerja-kerja intelijen.

Gelar ini menjadi bukti otentik bahwa kecerdasan intelektual beliau sebanding dengan keberaniannya di medan tempur.

Sang “Pembelajar Abadi” dengan Deretan Gelar
Jika melihat deretan gelar akademiknya, banyak orang akan berdecak kagum. Hendropriyono adalah potret nyata seorang pembelajar abadi. Beliau memegang gelar sarjana di berbagai bidang berbeda

Hukum (STHM)
Administrasi (STIA-LAN)
Ilmu Politik (Universitas Terbuka)
Teknik Industri (Unjani)

Tak berhenti di situ, beliau juga meraih gelar Doktor Filsafat dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan predikat Cum Laude. Bagi beliau, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk memperkuat analisis dan strategi dalam menjaga kedaulatan negara.

Dari Prajurit Komando Menuju “The Master of Intelligence”
Sebelum dikenal sebagai sang profesor, Hendropriyono adalah prajurit baret merah (Kopassus) sejati. Kariernya dimulai sebagai komandan peleton yang kenyang akan operasi tempur, mulai dari penumpasan pemberontakan hingga operasi di Timor Timur.

Kejeniusannya dalam bidang intelijen mulai terlihat saat beliau menjabat posisi-posisi strategis di BAIS ABRI, Pangdam Jaya, hingga puncaknya menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) yang pertama. Di bawah kepemimpinannya, BIN mengalami transformasi besar, termasuk lahirnya Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Sentul, Bogor.

Mewariskan “Filsafat Intelijen”
Apa itu Filsafat Intelijen? Melalui pemikirannya, Hendropriyono ingin menekankan bahwa intelijen bukan sekadar tentang memata-matai, melainkan tentang kemampuan memprediksi masa depan (forecasting) demi keselamatan bangsa. Ia ingin para praktisi intelijen memiliki etika dan landasan berpikir yang kuat, sehingga intelijen bekerja untuk kepentingan negara, bukan kepentingan sempit.

Hidup untuk terus mengabdi
meski sudah purna tugas, pengabdian “The Master of Intelligence” ini belum usai. Beliau tetap menjadi rujukan utama, narasumber penting, dan pengamat yang tajam terkait isu terorisme dan keamanan global.(WKPD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *