
Oleh:Lhynna Marlinna
MELONGUANE, BRANINEWS .ID, IDONESIA Kabupaten Kepulauan Talaud, wilayah paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina, kembali menjadi sorotan. Namun, kali ini bukan karena prestasi atau keberhasilan menghalau kapal asing yang kerap menjarah kekayaan tuna di perairan tersebut, melainkan karena tragedi kemanusiaan yang mencoreng wajah institusi penjaga laut.
Di tengah isu maraknya illegal fishing dan pencurian ikan tuna oleh kapal asing yang meresahkan nelayan lokal, masyarakat Talaud justru dikejutkan oleh aksi brutal oknum aparat sendiri. Seorang guru SMK, Berkam Saweduling (BS), menjadi korban pengeroyokan oleh enam anggota TNI AL dari Lanal Melonguane.
Kronologi: Teguran Berujung Petaka
Peristiwa memilukan ini terjadi di Pelabuhan Melonguane pada Kamis malam, 22 Januari 2026, sekitar pukul 21.00 – 23.30 WITA. Saat itu, Berkam sedang mengisi waktu luang dengan memancing di area pelabuhan.
Ketenangan malam itu terusik oleh sekelompok oknum anggota TNI AL yang diduga dalam kondisi mabuk. Merasa terganggu dengan kegaduhan yang mereka buat, Berkam mencoba menegur secara lisan dan merekam kejadian tersebut sebagai bukti.
Namun, respons yang diterima sungguh di luar dugaan. Bukannya mereda, teguran sang guru justru memicu amarah para oknum aparat. Berkam dikeroyok secara brutal hingga babak belur.
Ironisnya, insiden ini tidak berhenti di situ. Lima warga lain (termasuk keluarga korban) yang datang ke markas untuk menanyakan kondisi Berkam, turut menjadi sasaran kekerasan fisik. Total korban tercatat mencapai enam orang.
Paradoks Penjaga Laut
Insiden ini memicu gelombang kemarahan warga. Pada Jumat (23/1/2026), ratusan massa menyerbu Mako Lanal Melonguane menuntut keadilan. Kemarahan ini bukan tanpa alasan; ada kekecewaan mendalam terhadap prioritas aparat.
Publik Talaud sejatinya sedang resah. Data lapangan menunjukkan perairan Talaud masih menjadi “surga” bagi kapal ikan asing (KIA), terutama dari Filipina, yang kerap masuk dan mengeruk komoditas tuna unggulan daerah ini.
Harapan masyarakat agar aparat fokus menjaga kedaulatan laut dari penjarah asing seolah runtuh ketika melihat “kekuatan” aparat justru diarahkan kepada warga sipilnya sendiri—seorang guru yang seharusnya dihormati.
Respons Institusi
Menanggapi besarnya tekanan publik, TNI AL bergerak cepat. Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) VIII Manado telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Lima oknum prajurit yang terlibat (teridentifikasi berinisial Trisma, Niko T, Idil, dan dua inisial M) kini telah ditahan oleh Polisi Militer Angkatan Laut (POM AL) untuk menjalani proses hukum.
“Kami tidak mentolerir segala bentuk tindakan tidak terpuji dan melanggar hukum yang dilakukan oleh anggota,” tegas pihak Lantamal VIII dalam keterangan resminya.
Catatan Akhir
Kasus di Melonguane ini menjadi pengingat keras. Di perbatasan yang sunyi, musuh sejati adalah pelanggar kedaulatan yang mencuri kekayaan alam kita, bukan guru atau warga lokal yang sekadar ingin memancing dengan tenang.
Penegakan hukum terhadap para pelaku kini dinanti, bukan hanya untuk memulihkan luka fisik Pak Guru Berkam, tapi juga untuk memulihkan kepercayaan warga di beranda depan negeri ini.
