Jenderal Wiranto mantan Panglima ABRI

BRANINEWS.ID-Dari militer, politik, hingga lingkar dalam istana, jejaknya nyaris tak terputus selama lebih dari tiga dekade.

Wiranto lahir di Yogyakarta pada 4 April 1947. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, sebagai anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar. Latar belakang ini membentuk karakter hidup yang jauh dari kemewahan.

Siapa pun yang mengikuti sejarah politik Indonesia pasca-Orde Baru hampir pasti pernah mendengar nama Wiranto. Sosok ini bukan sekadar pejabat negara, melainkan figur yang berulang kali hadir di titik-titik paling genting dalam perjalanan kekuasaan nasional.

Setelah lulus dari Akademi Militer Nasional pada 1968, karier militernya dimulai jauh dari pusat kekuasaan, tepatnya di Sulawesi Utara. Ia meniti jalan panjang dari Komandan Peleton, Komandan Kompi, hingga Komandan Batalyon, menghabiskan belasan tahun dalam penugasan lapangan yang keras dan minim sorotan.

Perubahan besar terjadi pada 1989, ketika Wiranto dipercaya menjadi ajudan Presiden Soeharto. Jabatan ini menjadi titik loncat yang mengubah arah hidupnya. Akses langsung ke pusat kekuasaan membuka jalan ke posisi-posisi strategis: Pangdam Jaya, Panglima Kostrad, hingga puncaknya sebagai Panglima ABRI sekaligus Menteri Pertahanan dan Keamanan pada akhir Orde Baru.

Peran paling menentukan datang pada Mei 1998. Saat gelombang reformasi mengguncang Jakarta dan legitimasi kekuasaan Soeharto runtuh, Wiranto berada di posisi yang secara teoritis memiliki kewenangan luar biasa. Namun, ia tidak memilih jalan kekuasaan.

Ia mengawal proses pengunduran diri Soeharto dan memastikan peralihan kekuasaan kepada B. J. Habibie berlangsung secara konstitusional. Keputusan ini menjadi salah satu faktor kunci yang mencegah konflik horizontal dan perpecahan militer yang lebih luas.

Pasca-militer, Wiranto tidak menghilang. Ia mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dan tetap berada di orbit kekuasaan nasional. Ia pernah menjabat menteri pada era Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Joko Widodo.

Pada 2019, pengabdiannya kembali diuji ketika ia menjadi korban penusukan di Pandeglang, Banten. Peristiwa itu tidak menghentikannya. Setelah pemulihan, ia tetap aktif menjalankan peran kenegaraan.

Kisah Wiranto adalah potret perjalanan panjang seorang prajurit yang mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap relevan di tengah perubahan zaman. Dari anak guru di Yogyakarta hingga menjadi pengawal transisi kekuasaan nasional, namanya tercatat sebagai salah satu aktor penting dalam sejarah politik modern Indonesia.

Kini, di era Presiden Prabowo Subianto, Wiranto kembali dipercaya sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan. Kepercayaan lintas rezim ini menegaskan satu hal: di mata para pengambil keputusan, Wiranto dipandang sebagai figur stabilisator yang memahami transisi kekuasaan Indonesia dari dalam.(MS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *