JAKARTA,BRANINEWS.ID–Dewan Pertahanan Nasional (DPN) resmi melantik dua tokoh publik dengan latar belakang keahlian yang kontras namun strategis.

Adalah Frank Alexander Hutapea dan Sabrang Mowo Damar Panuluh, sebagai Tenaga Ahli Madya. Pelantikan ini menandai langkah progresif pemerintah dalam memperkuat arsitektur pertahanan negara melalui pendekatan multidimensi, yang tidak hanya berfokus pada kekuatan militer fisik, tetapi juga ketahanan hukum dan kedaulatan data.

Putra dari budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ini adalah lulusan University of Alberta, Kanada, dengan gelar Bachelor of Science (B.Sc) serta mengambil double major di bidang Matematika dan Fisika.

Penunjukan kedua tokoh ini dinilai sebagai respons adaptif terhadap tantangan geopolitik modern, di mana ancaman nirmiliter—seperti sengketa hukum internasional dan peperangan siber—menjadi isu krusial bagi kedaulatan negara.

Penguatan di Sektor Hukum Bisnis
Frank Alexander Hutapea, yang dikenal publik sebagai praktisi hukum korporasi, membawa rekam jejak akademis dan profesional yang solid ke dalam tubuh DPN. Putra dari pengacara kondang Hotman Paris Hutapea ini dinilai memiliki kapabilitas mumpuni dalam aspek litigasi bisnis dan hukum internasional.

Berdasarkan data pendidikan, Frank merupakan lulusan University of Kent, Inggris, dengan gelar Bachelor of Laws (LL.B) pada tahun 2012, di mana ia mendalami Hukum Perbankan dan Korporasi. Ia kemudian menuntaskan gelar Sarjana Hukum (S.H.) di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta untuk melengkapi kualifikasi praktik di tanah air.

Sebagai partner di firma hukum Hotman Paris & Partners dan pendiri Frank Solicitors, Frank memiliki pengalaman luas menangani kepailitan, arbitrase, dan sengketa korporasi skala besar.

Keahlian ini diproyeksikan vital bagi DPN dalam menghadapi tantangan lawfare (pemanfaatan hukum sebagai instrumen strategi pertahanan), termasuk dalam negosiasi kontrak pertahanan strategis dan mitigasi risiko hukum negara di arbitrase internasional.

Lalu apakah tugas Noe Letto sebagai tenaga ahli DPN RI? Sementara Karo Infohan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menjelaskan, Noe Letto akan difokuskan kontribusi pemikiran strategis lintas disiplin.
“Intinya bidang keahlian yang bersangkutan difokuskan pada kontribusi pemikiran strategis lintas disiplin, termasuk perspektif sosial, kebudayaan, dan komunikasi strategis yang relevan untuk memperkaya kajian Dewan Pertahanan Nasional,” kata Rico kepada sejumlah wartawan,Minggu (18/1/2026).

Sains dan Logika Sistem dalam Pertahanan dengan terpilihnya Sabrang Mowo Damar Panuluh—atau yang akrab disapa Noe Letto—memberikan warna teknokratis yang kental pada jajaran ahli DPN. Meski populer sebagai musisi dan budayawan, Sabrang memiliki latar belakang sains murni yang mendalam.

Di luar panggung hiburan, Sabrang adalah pendiri dan CEO Symbolic.id, sebuah perusahaan teknologi yang berfokus pada analisis data dan kecerdasan buatan. Kapabilitasnya sebagai pemikir sistem (systems thinker) dianggap relevan untuk memperkuat pertahanan nirmiliter, khususnya dalam pemetaan ancaman hibrida, analisis big data untuk intelijen, serta strategi kedaulatan informasi nasional.

Sinergi Pertahanan Modern
Pelantikan Frank dan Sabrang sebagai pejabat setingkat Eselon II ini mengindikasikan bahwa DPN sedang membangun “benteng” pertahanan yang komprehensif.

Kombinasi antara keahlian hukum korporasi Frank Hutapea dan kemampuan logika analitik Sabrang Panuluh diharapkan mampu memberikan masukan strategis yang presisi kepada Presiden, khususnya dalam menavigasi ancaman global yang kini kian kompleks dan tak kasat mata.( LM/EFBE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *