BRANINEWS.ID–Mereka jarang terlihat, hampir tak pernah disebut dalam rilis operasi, dan nyaris tak dikenal publik. Namun ketika negara berada di ambang krisis, justru satuan-satuan inilah yang pertama kali disiapkan untuk bergerak.

Tidak semua kekuatan militer dipertontonkan. Sebagian justru sengaja disembunyikan, karena fungsinya bukan untuk parade, melainkan untuk situasi terburuk yang mungkin dihadapi negara. Berdasarkan verifikasi dokumen sejarah, rilis resmi Mabes TNI, dan pemberitaan kredibel hingga 25 Februari 2026, berikut adalah tiga pasukan elit TNI yang keberadaannya paling dirahasiakan namun perannya sangat menentukan.

Detasemen 81 Kopassus (Satgultor)

Sat-81 Kopassus merupakan satuan penanggulangan teror pertama yang dimiliki Indonesia dan berada langsung di bawah Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat. Satuan ini resmi dibentuk pada 30 Juni 1982, sebagai respons strategis negara terhadap ancaman terorisme modern.

Pemicunya adalah keberhasilan Operasi Woyla yang berlangsung pada 28–31 Maret 1981 di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Dalam operasi tersebut, tim Kopassus berhasil membebaskan sandera pesawat Garuda Indonesia DC-9 “Woyla” dari pembajakan teroris dalam waktu kurang dari tiga menit. Operasi ini diakui secara internasional dan menjadi tonggak lahirnya satuan anti-teror permanen.

Sat-81 diprakarsai oleh dua perwira Kopassus yang baru menyelesaikan pendidikan kontra-teror di GSG-9 Jerman Barat, yakni Mayor Inf. Luhut Binsar Pandjaitan sebagai komandan pertama dan Kapten Inf. Prabowo Subianto sebagai wakil komandan pertama.

Seiring perkembangan doktrin, istilah “Gultor” secara bertahap ditanggalkan. Kini satuan ini dikenal sebagai Sat-81 Kopassus, dengan cakupan operasi yang lebih luas dari sekadar kontra-teror. Identitas personel, jumlah pasukan, hingga sistem persenjataan tetap menjadi rahasia tingkat tinggi negara.

Detasemen Jala Mangkara(Denjaka)

Detasemen Jala Mangkara atau Denjaka adalah pasukan khusus penanggulangan teror aspek laut milik TNI Angkatan Laut. Cikal bakal satuan ini adalah Pasukan Khusus Angkatan Laut (Pasusla) yang dibentuk pada 1982, sebelum diresmikan menjadi Denjaka pada 13 November 1984.

Denjaka dirancang untuk menghadapi ancaman ekstrem di wilayah maritim: pembajakan kapal, teror di instalasi laut, sabotase pelabuhan, hingga operasi khusus lintas samudra. Personelnya bukan hasil rekrutmen biasa, melainkan disaring ketat dari prajurit terbaik Kopaska (Komando Pasukan Katak) dan Taifib (Intai Amfibi) Marinir.

Kemampuan Denjaka mendapat sorotan internasional pada 2011 saat terlibat dalam Operasi Pembebasan MV Sinar Kudus, kapal niaga Indonesia yang disandera perompak Somalia di perairan Samudra Hindia. Operasi ini membuktikan kemampuan proyeksi kekuatan laut Indonesia di perairan internasional.

Seperti Sat-81, struktur, kekuatan, dan penempatan Denjaka termasuk informasi terbatas yang hanya diketahui lingkaran strategis TNI.

Korpasgat(Korps Pasukan Gerak Cepat)

Satuan Bravo 90 adalah unit anti-teror TNI Angkatan Udara yang dibentuk pada 12 Februari 1990, tercatat di bawah kepemimpinan Marsma TNI Maman Suparman. Satuan ini dirancang untuk menangani ancaman teror terhadap objek vital udara nasional.

Anggota Bravo 90 direkrut dari prajurit terbaik pasukan khusus TNI AU. Sejak 2022, induk organisasi mereka mengalami perubahan nomenklatur: dari Paskhas menjadi Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat). Dengan demikian, Satbravo 90 kini berada di bawah kendali Kopasgat.

Spesialisasi utama satuan ini meliputi pembebasan sandera di pesawat, penanggulangan pembajakan udara, serta pengamanan pangkalan udara dan fasilitas strategis TNI AU.

Koopsus TNI( Komando Operasi Khusus)

Ketiga satuan elit ini kini berada dalam satu payung komando: Koopsus TNI (Komando Operasi Khusus), yang diresmikan pada 2019. Koopsus TNI dibentuk untuk memastikan respons cepat, terkoordinasi, dan lintas matra dalam menghadapi ancaman terorisme yang berpotensi mengganggu kedaulatan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *