Oleh: Lhynna Marlinna

JOGYAKARTA, BRANINEWS.ID–Sore itu di Bundaran UGM, Jumat (13/2/2026), suasana tak sekadar diwarnai lalu lalang kendaraan mahasiswa. Sebuah mimbar jalanan sederhana digelar. Suara lantang memecah keramaian, namun bukan cuma orasi yang menyita perhatian, melainkan sebuah pesan visual yang begitu lugas menempel di dada sang orator.

​Sosok itu adalah Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM. Berdiri santai namun penuh determinasi dengan mikrofon di tangan, Tiyo tampil mengenakan kaos hitam yang seketika menjadi pusat sorotan. Di bagian depannya tertulis tebal: “MALING BERKEDOK GIZI”.

​Huruf M, B, dan G sengaja disorot dengan warna merah, membentuk akronim MBG. Di sebelahnya, seorang rekan dengan gaya santai bertopi dan berslayer merah merespons orasi tersebut dengan senyum lebar, menciptakan atmosfer yang cair namun sarat makna.

​Pesan di kaos tersebut jelas bukan sekadar pilihan fesyen biasa yang gpp kalau dilewatkan begitu saja. Singkatan MBG yang selama ini melekat pada program populis pemerintah, diplesetkan secara berani menjadi sebuah kritik tajam. Ini adalah bentuk artikulasi kegelisahan mahasiswa terhadap potensi penyimpangan anggaran—sebuah sentilan keras terhadap kebijakan yang dibungkus narasi pemenuhan gizi, namun dicurigai rentan disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

​Dari properti yang terlihat di lapangan—sebuah speaker portabel hitam dan tablet yang terbuka sebagai perangkat panduan—mimbar sore itu dikemas secara membumi. Interaksi Tiyo dengan audiensnya tampak mengalir. Rekan di sebelahnya jg terlihat sangat mendukung momentum tersebut. Kritik khas gerakan mahasiswa sering kali disampaikan dengan cara yang kreatif dan satir; tanpa perlu selalu dengan urat tegang, namun pesannya langsung menohok jantung isu.

​Aksi Tiyo di ikon kebanggaan kampus biru tersebut membuktikan bahwa ruang-ruang publik masih menjadi kanvas yang efektif untuk pengawalan isu sosial. Sebuah kaos hitam hari itu berhasil merangkum keresahan publik ke dalam tiga kata tajam yang memantik ruang diskusi yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *