
BRANINEWS.ID, INDONESIA-Ada tiga jenderal yang pernah mencoba menggebrak panggung politik negeri ini,namun hasilnya tak Gilang gemilang dari harapan.
Dalam panggung politik dan sejarah Indonesia,tiga jenderal senior yang pernah mencoba mengukir jejak baru di dunia percaturan politik tanah air.
Ketiga jenderal itu mendirikan partai. Nama mereka besar, reputasi mereka mentereng di lingkungan TNI, namun perjalanan partainya ternyata tidak semulus langkah mereka di medan tugas.
- Jenderal Wiranto ,mantan panglima ABRI ers orde baru itu,setelah reformasi mendirikan Partai Hanura
Setelah karier panjang sebagai Panglima TNI, Jenderal (Purn) Wiranto mencoba membuka babak baru dengan mendirikan Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) pada 2006.
Hanura sempat menjadi perhatian, bahkan memperoleh kursi DPR pada Pemilu 2009 dan 2014. Namun memasuki pemilu berikutnya, popularitasnya terus merosot.
Konflik internal, hilangnya daya tarik figur, hingga persaingan antarelite membuat kiprah Hanura kian pudar.
Sebesar apa pun nama Wiranto di dunia militer, panggung politik ternyata punya ritme dan medan tempur yang berbeda.
- Letjen Sutiyoso, Perwira Tinggi TNI berlatar belakang dari Pasukan Khusus ini, mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)
Jenderal kelahiran Semarang Jawa Tengah yang juga akrab panggil “Bang Yos”, adalah mantan Gubernur DKI Jakarta selama dua periode dan mendirikan membesarkan PKPI setelah era reformasi.
Namun meski punya karisma kuat di tingkat daerah, PKPI tidak pernah benar-benar menembus suara nasional secara signifikan.
Partai ini berulang kali gagal melampaui parliamentary threshold, sehingga tak dapat kursi DPR.
Sutiyoso sendiri bergerak luwes di dunia pemerintahan, tetapi PKPI tetap sulit lepas dari status sebagai partai kecil yang berjuang di pinggir dalan arena politik besar.
- Jenderal A.M. Hendropriyono – Partai Keadilan dan Persatuan (PKP)
Sebagai mantan Kepala BIN dengan rekam jejak intelijen yang tajam serta sebagai Profesor Filsafat, Jenderal (Purn) A.M. Hendropriyono mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP).
Partai ini bermula dari semangat nasionalisme keras dan visi memperkuat NKRI.
Namun, PKP tidak pernah menjadi kekuatan besar dalam pemilu.
Minim basis massa, kurangnya figur publik yang menonjol, serta kompetisi politik yang semakin ketat membuat PKP berada jauh dari pusat kekuasaan.
Mengapa Mereka Kurang Sukses? meski ketiganya jenderal hebat, ada beberapa faktor yang membuat partai mereka kurang melesat di dunia politik sipil .Basis massa yang terbatas, tidak sebesar partai lama yang sudah mengakar.Brand politik kurang kuat, sulit menandingi narasi partai yang lebih mapan.
Minim regenerasi kader, terlalu bertumpu pada figur pendiri.Persaingan elektoral semakin ketat, apalagi setelah munculnya partai-partai baru yang lebih populis.
Pada akhirnya, medan politik seringkali lebih rumit daripada operasi militer lebih banyak manuver, lebih banyak kompromi, dan kemenangan tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga persepsi publik.(JURPOL)
