
BRANINEWS.ID–Pemimpin militer Iran menginstruksikan seluruh unit rudal dan korps drone untuk berada dalam status siaga tempur tertinggi. Mereka mengeklaim bahwa setiap jengkal pangkalan militer AS di Timur Tengah kini berada dalam jangkauan target presisi mereka.
Pernyataan keras ini menandai berakhirnya upaya diplomasi belakang layar dan dimulainya fase konfrontasi terbuka yang jauh lebih destruktif di kawasan Teluk.
Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik nadir setelah pemerintah Iran secara resmi menyatakan telah menutup pintu perdamaian dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pada 20 Maret 2026, Teheran menegaskan kesiapannya untuk melancarkan serangan balasan besar-besaran “tanpa kompromi” sebagai respons atas rangkaian sabotase terhadap fasilitas energi dan tewasnya pejabat tinggi intelijen mereka.
Pemimpin militer Iran menginstruksikan seluruh unit rudal dan korps drone untuk berada dalam status siaga tempur tertinggi. Mereka mengeklaim bahwa setiap jengkal pangkalan militer AS di Timur Tengah kini berada dalam jangkauan target presisi mereka.
Penutupan jalur dialog ini dipicu oleh kekecewaan mendalam Iran terhadap kegagalan komunitas internasional dalam membendung agresi udara Israel.
Bagi Teheran, kedaulatan nasional kini hanya bisa dibela melalui kekuatan senjata, bukan lagi lewat meja perundingan yang dianggap hanya menjadi alat ulur waktu bagi Washington.
Militer AS dan IDF Israel pun dilaporkan telah meningkatkan sistem pertahanan udara mereka ke level maksimal guna mengantisipasi serangan saturasi drone dan rudal balistik yang diprediksi akan segera diluncurkan oleh Garda Revolusi Iran. Dunia kini berada di ambang badai api yang dapat mengubah peta geopolitik dunia secara permanen pada tahun 2026.
Situasi ini memicu kepanikan di pasar global dan kewaspadaan tinggi di negara-negara tetangga Arab. Dengan ditutupnya ruang negosiasi, risiko pecahnya perang regional total kini tinggal menunggu pemantik kecil di Selat Hormuz. ( TBRN)
