Oplus_131072
Presiden Venezuela Maduro diborgol tentara Amerika

BRANINEWS.ID, INDONESIA-Irak dan Venezuela, dua negara dengan cadangan minyak raksasa, sama-sama menghadapi tekanan global dengan narasi moral yang keras.

Tuduhan besar dilontarkan, intervensi dilakukan, rezim diguncang. Namun setelah debu konflik mereda, alasan awal invasi justru menghilang dari panggung utama.

Sejarah politik internasional kerap bergerak dalam pola yang berulang, dan dua dekade terakhir memberi contoh yang sulit diabaikan.

Presiden Trump

Kasus Irak menjadi titik balik yang masih membekas hingga hari ini. Pada 2003, Amerika Serikat di bawah Presiden George W. Bush melancarkan invasi militer ke Irak dengan tuduhan bahwa Presiden Saddam Hussein menyimpan dan mengembangkan Senjata Pemusnah Massal, termasuk senjata nuklir dan kimia.

Narasi ini dipresentasikan secara resmi di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lengkap dengan klaim intelijen yang kala itu dianggap kredibel.

Invasi pun terjadi. Baghdad jatuh, rezim Saddam Hussein runtuh, dan sang presiden akhirnya ditangkap oleh pasukan AS di dekat Tikrit, Irak, dalam sebuah lubang persembunyian bawah tanah pada akhir 2003.

Namun bertahun-tahun setelah pendudukan, tim inspeksi internasional tidak pernah menemukan satu pun senjata nuklir atau WMD seperti yang dituduhkan. Yang tersisa adalah Irak yang hancur, ratusan ribu korban jiwa, dan sektor minyak yang beralih kendali ke perusahaan-perusahaan asing.

Dua dekade berselang, pola serupa tampak muncul di Amerika Latin. Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, menghadapi tekanan berat dari Amerika Serikat.

Presiden Nicolas Maduro secara terbuka dituduh oleh Washington terlibat dalam jaringan perdagangan narkoba internasional dan narco-terrorism. Tuduhan ini dijadikan dasar sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, hingga ancaman tindakan militer.

Namun, perhatian pengamat internasional tertuju pada perubahan narasi yang terjadi di lapangan. Alih-alih menonjolkan hasil penyitaan narkoba atau pembongkaran jaringan kartel, pernyataan resmi dan diskursus kebijakan justru bergeser ke isu pengelolaan, produksi, dan distribusi minyak Venezuela.

Fokusnya bukan lagi pada kejahatan narkotika, melainkan pada siapa yang memiliki kendali atas keran minyak di Caracas.

Irak dan Venezuela memiliki satu kesamaan yang tak terbantahkan: kekayaan energi dalam jumlah masif. Irak menyimpan cadangan minyak terbesar di Timur Tengah, sementara Venezuela memegang rekor global cadangan minyak mentah.

Ketika negara-negara ini mengambil posisi politik yang tidak sejalan dengan kepentingan kekuatan besar, isu senjata nuklir atau narkoba kerap muncul sebagai pembenaran moral untuk intervensi.

Sejarah Irak dan dinamika Venezuela hari ini memberi pelajaran keras: dalam geopolitik global, moralitas sering kali menjadi tirai, sementara kepentingan energi tetap menjadi panggung utama.

Retorika resmi selalu dibungkus dengan bahasa keamanan global dan kemanusiaan. Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa setelah tuduhan besar itu gagal dibuktikan secara konkret, perhatian dunia justru beralih ke sumber daya alam yang tersisa.(Glo/CATJUR/ED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *