
Laporan: Lhynna M
KAIRO, BRANINEWS .ID– Ketegangan konflik Iran–Israel mulai berdampak langsung pada warga sipil. Gelombang warga Israel dilaporkan ramai-ramai meninggalkan negaranya dan menuju Mesir demi mencari tempat yang lebih aman dari ancaman serangan balasan Iran.
Namun di tengah upaya menyelamatkan diri, mereka justru menghadapi persoalan baru: biaya evakuasi yang melonjak tajam.
Banyak warga Israel memilih jalur darat melalui perbatasan Taba menuju Semenanjung Sinai, Mesir. Jalur ini menjadi pilihan utama karena:
situasi keamanan yang memburuk
penerbangan internasional terganggu
kekhawatiran terhadap serangan lanjutan Iran
Lonjakan jumlah warga yang keluar ini menunjukkan meningkatnya rasa cemas di tengah eskalasi konflik.
Alih-alih mendapatkan perlindungan, warga justru dihadapkan pada tarif tinggi yang dinilai tidak wajar.
Biaya penyeberangan individu naik dari USD 60 menjadi USD 120
Kendaraan melonjak dari USD 10 menjadi USD 50
Tak hanya itu, harga hotel di kawasan wisata Sinai seperti Sharm el-Sheikh juga ikut melambung. Bahkan, sejumlah laporan menyebut tarif bagi warga Israel lebih mahal dibanding wisatawan lain.
Kondisi ini memicu kemarahan dan frustrasi, terutama karena mereka sedang berada dalam situasi darurat.
Peristiwa ini menyoroti sisi lain dari konflik geopolitik:
warga sipil menjadi pihak paling terdampak
proses evakuasi tidak selalu mudah dan murah
potensi “lonjakan harga darurat” di wilayah transit
Eksodus warga Israel ke Mesir memperlihatkan bahwa dampak perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di saat berusaha menghindari ancaman rudal, sebagian warga justru harus menghadapi “tekanan baru” berupa biaya tinggi untuk sekadar mencari tempat aman.
