BRANINEWS.ID –Di usia yang menginjak ke 74 tahun, pasukan elit milik TNI AD ini,terus mengadikkan diri menjaga keutuhan, kedaulatan Indonesia.

Dengan slogan usia yang ke 74 Komando Pasukan Khusus sebagai GARDA SENYAP UNTUK NEGERI “.Komando Pasukan Khusus, Dibalik ketenaran sebagai pasukan elite, tersimpan kisah panjang yang tidak sekadar berbicara tentang perang, tetapi juga tentang kehormatan, pengabdian, dan nilai kemanusiaan. Buku “Kopassus untuk Indonesia” membuka tabir kisah-kisah yang selama ini jarang terdengar kisah para prajurit yang hidup dalam bayang-bayang tugas berat demi bangsa.

Salah satu cerita paling mencolok datang dari era 1960-an, ketika Benny Moerdani menjalankan Operasi Naga di Merauke, Irian Barat. Begitu ditakuti, pihak Belanda bahkan memasang hadiah untuk menangkapnya. Sebuah simbol bahwa keberanian prajurit Indonesia mampu mengguncang lawan, bahkan sebelum peluru ditembakkan

Buku ini digagas oleh Mohamad Hasan, yang menegaskan bahwa kisah-kisah di dalamnya adalah “the untold story” narasi yang belum pernah sepenuhnya diungkap ke publik. Tidak hanya menceritakan para komandan dan Danjen, tetapi juga para prajurit yang gugur, meninggalkan jejak pengorbanan yang abadi.

Lebih dari sekadar nostalgia, buku ini menatap masa depan. Generasi milenial Kopassus seperti Mayor Inf Alzaki dan Mayor Inf Fictor J. Situmorang ditampilkan sebagai simbol regenerasi bahwa estafet pengabdian terus berjalan. Prestasi internasional yang mereka raih menjadi bukti bahwa Kopassus tidak hanya kuat di medan tempur, tetapi juga unggul dalam intelektualitas dan kepemimpinan global.

Dalam tubuh Kopassus, nilai kehormatan bukan sekadar slogan. Hubungan antara senior dan junior dibangun atas dasar saling menghargai. Bahkan kisah Kapten (Purn) Wardi menunjukkan bagaimana seorang pelatih rela kembali ditempa oleh murid-muridnya demi menyandang brevet komando sebuah bukti bahwa kerendahan hati adalah bagian dari kekuatan sejati.

Filosofi Kopassus juga terangkum dalam kalimat sederhana namun dalam:
“Kami tidak hebat, tetapi terlatih.”
Ungkapan dari Tarub ini menegaskan bahwa keunggulan bukan datang dari kesombongan, melainkan dari latihan tanpa henti dan disiplin tanpa kompromi.

Sejarah Kopassus sendiri berakar dari gagasan visioner Ignatius Slamet Riyadi yang kemudian diwujudkan oleh Alex Evert Kawilarang pada tahun 1952. Sejak saat itu, pasukan ini terlibat dalam berbagai operasi penting—dari penumpasan pemberontakan hingga misi penyelamatan yang menuntut presisi tinggi.

Namun, di balik keberhasilan, selalu ada harga yang harus dibayar. Nama-nama prajurit yang gugur di medan tugas diabadikan sebagai simbol penghormatan. Mereka bukan sekadar angka dalam sejarah, tetapi jiwa-jiwa yang mengorbankan segalanya demi merah putih.

Tokoh-tokoh besar seperti Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Panjaitan juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan korps. Bagi mereka, menjadi bagian dari Kopassus bukan hanya soal kemampuan tempur, tetapi juga integritas moral dan tanggung jawab terhadap bangsa.

Menariknya, buku ini juga menyoroti sisi lain yang jarang dibahas: hubungan harmonis antara prajurit dan alam. Bagi Kopassus, alam bukan sekadar medan latihan, tetapi juga mitra yang harus dijaga dan dilestarikan.

Pada akhirnya, inti dari semua kisah ini bermuara pada satu pemahaman mendalam:
kemenangan sejati bukanlah tentang menghancurkan musuh, melainkan mencapai tujuan tanpa pertumpahan darah.

Di situlah letak keagungan seorang prajurit bukan hanya pada keberanian mengangkat senjata, tetapi pada kebijaksanaan dalam menggunakannya.

” Dirgahayu ke 74 Kopassus Garda Senyap Untuk Negeri”(TBRN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *