
BRANINEWS.ID|| Kondisi mata uang Garuda makin bikin elus dada. Pada penutupan Jumat (29/5/2026), Rupiah di pasar spot keok lagi dan nangkring di level Rp 17.880 per Dolar AS, dikit lagi jebol angka psikologis Rp 17.900!
Menariknya, respons dari benteng finansial kita justru bikin dahi berkerut. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan menyebut fenomena anjloknya Rupiah kali ini di luar nalar karena fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya lagi bagus-bagus saja.
“Sebenarnya tidak masuk akal… Ya saya stres,” seloroh Purbaya di depan awak media.
Meski sempat bercanda mengaku stres, Menkeu menjamin bahwa APBN 2026 sama sekali gak goyang dan tidak perlu dihitung ulang! Pemerintah mengklaim sudah mensimulasikan skenario terburuk jika harga minyak dunia melesat ke 100 Dolar AS per barel. Pasar obligasi juga diklaim masih aman terkendali karena modal asing mulai masuk lagi ke surat utang negara.
Lalu, bagaimana nasib dompet rakyat kecil?
Di tengah lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang sempat menyentuh 117,31 Dolar AS per barel pada April lalu dikutip dari koran bali ekspres,pemerintah kompak memasang badan agar harga BBM tidak naik:
Pertalite & Solar Dijamin Aman: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menggaransi harga BBM subsidi TIDAK AKAN NAIK sampai akhir tahun ini. "Insya Allah ya, doain ya," ujarnya.
Cadangan BBM Melimpah: Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menambahkan, stok BBM nasional (baik subsidi maupun nonsubsidi seperti Pertamax) saat ini berada jauh di atas batas cadangan minimal berkat kesiapan kilang dalam negeri.
Meskipun pemerintah hobi obral janji kalau BBM subsidi aman dan APBN kuat, netizen tetap skeptis. Pasalnya, jika Dolar AS benar-benar tembus Rp 18.000 pekan depan sesuai prediksi para analis, efek domino ke harga barang pokok jelas gak bakal bisa dihindari!
Apakah janji “tidak akan naik sampai akhir tahun” ini bakal bertahan, atau justru jadi bom waktu pasca-tahun baru?.( KBE)
