BRANINEWS .ID|| Ekonom bergaya rocker itu menilai pasar modal Indonesia telah hancur. Di samping itu, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) telah memburuk hingga di atas Rp18.000 per dolar.

Dia mengkritik pemerintah, terutama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang tetap optimistis di tengah melemahnya rupiah. Namun, optimisme itu, menurut Ferry, tidak disertai dengan bukti nyata.

Ekonom senior Ferry Latuhihin menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto perihal anjloknya nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Surat itu tidak berbentuk tulisan seperti surat pada umumnya, tetapi berisi kritik dan saran dari Ferry yang dikemas dalam bentuk video untuk pemerintahan Prabowo.

“Saya tetap konfirmasi, ya. Saya tetap sangat yakin bahwa dolar berpotensi ke arah Rp20.000. Mungkin bulan ini,” ujar Ferry di kanal YouTube miliknya, Kamis, (4/6/2026).

Kata dia lagi menambahkan,

“Yang menyebabkan tekanan begitu bertubi-tubi terhadap rupiah maupun harga saham adalah kebijakan-kebijakan pemerintah yang sama sekali tidak welcome terhadap para pelaku pasar. Pemerintah bikin banyak sekali blunder,” ungkap Ferry yang pernah menjadi anggota Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran.

Dia menyebut salah satu blunder terakhir adalah pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau PT DSI, yakni badan usaha milik negara (BUMN) yang bertindak sebagai BUMN ekspor dan eksportir tunggal untuk komoditas sumber daya alam strategis Indonesia, seperti batu bara, kelapa sawit, dan fero aloi.

Dia berkata PT DSI bertujuan untuk memantau praktik underinvoicing yang banyak merugikan negara.

“Tapi masalahnya PT DSI over gitu, loh. Yang diperlukan adalah supervisory body, yaitu badan pengawas untuk mengawasi ekspor kita apakah ada permainan transfer pricing atau underinvoicing.”

“Tapi yang didirikan adalah suatu badan hukum yang seolah-olah para eksportir ini harus menyerahkan barangnya dulu kepada PT DSI, dan PT DSI baru meneruskan ke buyers. Nah, ini bisa terjadi moral hazard. Banyak yang berpikir bahwa PT DSI bisa-bisa nanti digunakan untuk memeras para eksportir,” katanya.

Menurut Ferry, keberadaan PT DSI sangat riskan. Bahkan, S & P Global Ratings yang menjadi salah satu lembaga pemeringkat kredit efek, obligasi, dan saham terbesar di dunia sempat menyinggung kemungkinan menurunkan rating Indonesia.SBTRB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *