Oplus_131072

BRANINEWS.ID|| Yudistira Hendra Permana, menegaskan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang memperlihatkan tanda-tanda krisis yang nyata. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM)itu menilai situasi yang terjadi sekarang belum sepenuhnya menyerupai krisis multidimensi yang meluluhlantakkan bangsa pada tahun 1998 silam.“Kalau tahun 1998 itu ya, krisisnya itu tidak hanya krisis ekonomi saja sebetulnya, tetapi juga krisis multidimensi: sosial, politik, dan hukum semuanya jadi satu,” jelas Yudistira dalam keterangannya, Jumat (5/6/2026).

Hal inilah yang membuat situasi sosial dan politik dinilai belum mencapai titik didih yang berpotensi meledak seperti menjelang era Reformasi. Menurutnya, ada perbedaan mendasar yang memisahkan kedua masa tersebut.

Krisis hebat 1998 bukanlah semata-mata persoalan angka dan ekonomi, melainkan puncak dari akumulasi masalah yang telah menumpuk puluhan tahun lamanya: mencakup keterpurukan ekonomi, ketimpangan sosial, kemandekan politik, hingga lemahnya penegakan hukum yang terjadi serentak dalam satu waktu.

Berbeda dengan masa lalu, tekanan yang dirasakan masyarakat saat ini masih terpusat paling berat pada sektor perekonomian saja. Selain itu, ruang kebebasan untuk menyampaikan pendapat, kritik, dan aspirasi masyarakat saat ini jauh lebih terbuka dibandingkan masa kekuasaan Orde Baru yang sangat ketat. Hal inilah yang membuat situasi sosial dan politik dinilai belum mencapai titik didih yang berpotensi meledak seperti menjelang era Reformasi.
“Kalau untuk sekarang, krisis ekonominya itu sudah terlihat,” tegasnya.

Ia pun memperingatkan bahwa keresahan sosial bisa muncul sewaktu-waktu, terutama jika kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi pangan tidak segera dikendalikan pemerintah. Namun, menurutnya, gejala semata seperti itu belum cukup untuk memicu peristi sebesar pada 1998 tanpa diiringi faktor politik dan kondisi pendukung lainnya.

Dibandingkan masa lalu, situasi kini juga dinilai belum memiliki pemicu politik yang sama kuatnya. Menjelang 1998 misalnya, terdapat rentetan peristiwa besar yang memunculkan kemarahan rakyat, mulai dari Tragedi Kudatuli hingga penerapan Daerah Operasi Militer di Aceh, yang semuanya menjadi dorongan kuat untuk melakukan perubahan besar. Bahkan saat itu, peralihan kekuasaan pun dinilai sudah memiliki figur yang dipercaya masyarakat.

“Dulu situasinya boleh dibilang sudah ada langkah-langkah untuk melakukan peralihan kekuasaan. Nah sekarang, kalaupun terjadi pergulatan kekuasaan, turunnya ke siapa? Apakah ada figur yang dipercaya masyarakat? Itu yang belum terlihat jelas,” ungkapnya.

Menurut analisisnya, ketidakpastian mengenai arah kepemimpinan dan figur pengganti yang bisa dipercaya, masalahnya publik ragu dengan mas Gibran, walau mayoritas pendukung Jokowi mendukung Prabowo itu karena sosok mas Gibran, sedang mas Gibran dan kondisi sekarang justru menjadi salah satu alasan mengapa situasi belum mematangkan para pendemo karena sepenuhnya belum sama dengan masa 1998. Di satu sisi ekonomi sedang sakit, namun di sisi lain masyarakat masih merasa gamang dan belum memiliki titik tumpu yang jelas jika terjadi perubahan besar secara tiba-tiba.

Dijelaskan Yudistira dirinya tidak menampik bahwa gejala buruk di bidang ekonomi sudah semakin terlihat jelas dan tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Pelemahan tajam nilai tukar rupiah, terus merosotnya daya beli rakyat, hingga lambatnya masuk investasi ke dalam negeri adalah sejumlah indikator utama yang menandakan adanya tekanan berat terhadap perekonomian nasional. SBSDC

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *