

Foto : Ribuan kader PDI berkumpul
BRANINEWS.ID–Ribuan warga PDI yang melakukan unjuk rasa memprotes keterlibatan ABRI & pemerintah dalam mengkudeta Mega dari posisi Ketua Umum PDI. Protes itu dipimpin oleh Sophan Shopiaan, Mangara Siahaan, SGB Tampubolon & Jatikusumo. Mereka adalah kader-kader yang loyal pada Mega. Berawal dari long march massa PDI Pro Mega dari Jalan Diponegoro Nomor 58 menuju Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jalan Medan Merdeka Utara Nomor 7.
Warga PDI memprotes keterlibatan Mendagri Yogie Suardi Memet dalam membuka pelaksaan Kongres PDI Kubu Soerjadi di Kota Medan. Massa sebenarnya sudah dihadang aparat gabungan tentara & polisi sejak berkumpul di Jalan Diponegoro. Mangara Siahaan & Sophan Shopiaan turun dari kap mobil untuk memukul sekuat tenaga tameng polisi. Sempat terjadi chaos. Sebelum akhirnya aparat keamanan membuka jalan bagi massa aksi. Massa aksi lanjut berjalan.
Rutenya dari Jalan Diponegoro – Jalan Imam Bonjol – Bundaran HI – MH Jalan Thamrin – Jalan Merdeka Selatan & dihentikan aparat di depan Stasiun Gambir.Polisi & tentara siaga dengan tameng & pentungan. Aksi yang awalnya damai berubah menjadi aksi berdarah. Terjadi pemukulan & tidak kekerasan oleh aparat ke peserta aksi. Tank ABRI mondar-mandir mengejar & menakuti pengunjuk rasa. Suasana gaduh.

Foto: Kader PDI Sopan Sopian berdiri di atas mimbar
Massa PDI saling bantu dengan membawa langsung ke rumah sakit untuk mereka yang terluka. Ditengah situasi tak menentu, warga PDI menahan diri. Barisan massa memilih mundur dengan berlari dari Jalan Cikini kembali ke Jalan Diponegoro.
Tempat Markas PDI. Langkah ini diambil atas perintah Mega bahwa ia mendukung aksi. Syaratnya harus damai & tidak boleh ada kekerasan. Setelah massa kembali ke Jalan Diponegoro. Mimbar Demokrasi di halaman Kantor Pusat PDI dimulai. Panggung Diponegoro seketika berubah.

Lebih hidup. Siapa saja yang ingin berorasi dipersilakan berorasi. Mahasiswa, Aktivis LSM, kader partai bahkan wartawan pun diizinkan berorasi. Hari itu Kantor Pusat PDI membawa harapan perubahan akan atmosfir demokrasi. Peristiwa Gambir itu pula yang menjadi aksi massa terbesar di Era Orde Baru pasca Peristiwa Malari 15 Januari 1974. Anwar Saragih.
