BRANINEWS.ID– Mereka banyak berselisih paham pasca Pemilu 1992. Dampaknya Soharto tidak memberi restu pada Soerjadi untuk maju kembali di Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya 2-6 Desember 1993. Soeharto kemudian memberi restu pada Budi Hardjono untuk maju menjadi Calon Ketua Umum PDI. Namun, Forum Kongres memilih Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua Umum PDI masa bakti 1993-1996.

Menyadari bahwa Budi Hardjono bukan lawan yang seimbang dari Mega, Soeharto kembali membangun komunikasi dengan Soerjadi. Antara Soeharto & Soerjadi membangun konsensus. Semacam “win win solution” untuk kepentingan politik jangka pendek. Kepengurusan Mega pun tidak disahkan pemerintahan Orde Baru meski beberapa kali sudah diajukan.

Konflik sengaja dipelihara dengan tujuan agar Mega tidak menjadi Ketua Umum PDI untuk Pemilu 1997. Tiga tahun perselisihan antara PDI Kubu Mega & PDI Kubu Soerjadi dibiarkan begitu saja tanpa titik penyelesaian. Sampai akhirnya waktu memasuki bulan Juni 1996. Satu persatu kepengurusan Mega di DPP PDI dioperasi lewat kaki tangan pemerintah.

Sebanyak 16 orang dari total 27 orang pengurus meninggalkan Mega. Gerakan ini akhirnya diberi nama Kelompok 16 yang tujuannya merancang skenario dalam penyelenggaraan Kongres untuk mengkudeta posisi Mega. Motor pergerakan penggulingan Mega adalah Fatimah Achmad. Sahabat Mega sendiri. Antara Mega & Fatimah Achmad sudah seperti kakak adik. Mereka sering tidur sekasur. Tapi ia memilih jalannya sendiri dengan meninggalkan Mega.

Pergerakan Fatimah Achmad bersama Kelompok 16 ini mendapat dukungan dari ABRI & Pemerintah untuk menggelar Kongres di Medan pada 20 – 23 Juni 1996. Fatimah Achmad yang jadi ketua Panitia Kongres. Kongres dibuka langsung oleh Mendagri Yogie SM yang juga dihadiri Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung. Sejak saat itu lawan politik Mega adalah PDI Kubu Soerjadi, pemerintah & aparat. Namun, meski lawannya amat kuat, Tuhan & rakyat wong cilik membersamai perjuangan Mega. Ia semakin kokoh & kuat. Ia tidak mudah ditumbangkan walau yang dihadapinya adalah “negara”. Satyam Eva Jayate – Kebenaranlah yang akhirnya menang. ( ANWAR SARAGIH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *