
KENDAL, BRANINEWS .ID – Tokoh Pelestari Lingkungan Kendal, Wasito memprediksi rob akan meluas hingga ke Alun-alun Kendal mulai tahun 2030-an.
Prediksi itu didasari atas hilangnya garis pantai di hampir seluruh pesisir di Kendal yang berkurang setiap tahunnya.
Selain itu, Wasito juga menyebut terjadinya penurunan permukaan tanah atau land subsidence akibat penyedotan air tanah secara berlebihan, serta keberadaan aktivitas industri yang semakin meluas turut berpengaruh pada rob.
“Kalau prediksi saya di tahun 2030-an itu rob mencapai Alun-alun Kendal,” kata Wasito beberapa waktu lalu.
Prediksi Warsito itu juga diperkuat penelitian yang dilakukan oleh B. Fadhlurrohman, Yoga Prasetyo, dan Nurhadi Bashit dari Universitas Diponegoro pada 2020.
Dalam judul penelitian “Studi Penurunan Muka Tanah di Kawasan Industri Kendal dengan Metode Permanent Scatterer Interferometric Synthetic Aperature Radar (PS InSAR) menggunakan Citra Satelit Sentinel 1-A Tahun 2014-2019,” menyebutkan, wilayah pesisir utara Kabupaten Kendal mengalami penurunan permukaan tanah dengan laju rata-rata antara 2,8 hingga 3 cm per tahun.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Lutfiyatul Kamilan, tentang Analisis Proyeksi Penurunan Muka Tanah dan Sebaran Banjir Rob di Kabupaten Kendal Jawa Tengah tahun 2025.
Dalam penelitian itu, disebutkan jika penurunan muka tanah yang terjadi di Kabupaten Kendal memiliki laju yang beragam, mulai dari 0,79 cm hingga 5,53 cm per tahun. Adapun rata-rata laju penurunan muka tanah adalah 2,87 cm per tahun.
Adapun wilayah yang mengalami penurunan muka tanah dengan laju tertinggi yaitu area pemukiman dan industri. Hal ini menandakan beban bangunan dapat mempercepat laju penurunan muka tanah.
Penelitian itu juga menyebut proyeksi pada tahun 2030 berdasarkan hasil analisis penurunan muka tanah pada tahun 2025, menunjukkan secara akumulatif tanah mengalami penurunan hingga 14,36 cm.
Selain itu, berdasarkan proyeksi penurunan muka tanah dan kenaikan muka air laut, diprediksi kedalaman banjir rob pada tahun 2030 mencapai 138,23 cm dan menggenangi 10,68 persen dari wilayah Kabupaten Kendal.
Menurut Wasito, pembangunan giant sea wall merupakan langkah strategis untuk mengurangi dampak rob. Meski begitu, pembangunan itu tetap akan menimbulkan dampak positif dan negatif.
“Dampak positifnya, rob teratasi tetapi dia akan bergeser mencari tempat yang lebih rendah. Dampak negatifnya, ya kalau banjir air tidak bisa keluar, jadi harus disediakan juga kolam retensi dan pompanya,” paparnya.
Sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga lingkungan pesisir, Wasito yang juga menjadi pegawai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal itu terus melakukan penanaman mangrove sejak 2006 dengan jumlah lebih dari 248 ribu tanaman di pesisir pantai utara Jawa.
Dalam setiap kegiatannya, Wasito mengajak masyarakat sekitar dan pelajar serta mahasiswa, juga pecinta alam, untuk bersama-sama menanam mangrove di sabuk pantai.
“Saya ngajak sama yang mau, kalau enggak mau ya tidak apa-apa, tidak ada paksaan,” ujarnya.(BGS)
