BRANINEWS.ID|| Nama Letjen TNI (Purn) Lodewyk Pusung mendadak menjadi sorotan publik di tengah gejolak yang melanda Badan Gizi Nasional (BGN).

Purnawirawan TNI AD itu baru saja dicopot dari jabatannya sebagai Wakil Kepala BGN oleh Presiden Prabowo Subianto.

Belum reda kabar pergantian tersebut, Lodewyk juga dikabarkan ikut dijemput tim Kejaksaan Agung bersama mantan Kepala BGN Dadan Hindayana dan mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya.

Peristiwa itu terjadi hanya sehari setelah pemerintah mengumumkan perombakan pimpinan BGN pada Selasa (2/6/2026).

Selain Dadan Hindayana, dua wakil kepala lembaga tersebut, yakni Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya, juga diberhentikan dari jabatannya.

Pemerintah kemudian menunjuk pejabat baru untuk memimpin lembaga yang menjadi ujung tombak pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kabar mengenai penjemputan Lodewyk oleh Kejagung menambah perhatian publik terhadap sosoknya. Berdasarkan informasi yang beredar, penjemputan dilakukan pada Rabu (3/6/2026) dini hari.

Namun hingga kini Kejagung belum mengumumkan secara resmi, baik membenarkan maupun membantah hal tersebut.

Rekam jejak di militer

Di luar dinamika yang sedang berkembang, Lodewyk merupakan figur militer senior dengan rekam jejak panjang di lingkungan TNI.

Pusung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 1960 dan merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1985 dari kecabangan infanteri. Selama kariernya, ia dikenal sebagai perwira yang banyak menghabiskan waktu di satuan tempur dan komando teritorial.

Sejak awal berdinas, Lodewyk meniti karier secara bertahap dari level komandan peleton hingga menduduki berbagai posisi strategis.

Jabatan awal yang pernah diembannya antara lain Danton Yonif 507/Sikatan dan sejumlah posisi pendidikan serta pembinaan pasukan di lingkungan TNI AD.

Kariernya mulai menanjak ketika dipercaya menjadi Komandan Batalyon Infanteri 203/Arya Kemuning pada 1999.

Setelah itu, ia menjabat Komandan Kodim 0505/Jakarta Timur, sebuah posisi yang memberinya pengalaman memimpin satuan teritorial di ibu kota.

Lodewyk kemudian melanjutkan kiprahnya di berbagai jabatan strategis. Ia pernah menjadi Asisten Operasi Kasdam IX/Udayana, Danrem 142/Tatag, hingga Kasdam VI/Mulawarman.

Posisi-posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu perwira yang memiliki pengalaman luas baik di bidang operasi maupun pembinaan wilayah.

Capaian gemilang di TNI terjadi ketika ia dipercaya menjadi Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad pada 2015.

Tidak lama kemudian, ia memperoleh promosi menjadi Panglima Kodam I/Bukit Barisan, salah satu komando kewilayahan terbesar di Indonesia.

Setelah memimpin Kodam I/Bukit Barisan, Lodewyk kembali mendapatkan kepercayaan untuk menjabat Asisten Operasi Panglima TNI.

Jabatan tersebut termasuk posisi strategis karena berkaitan langsung dengan perencanaan dan pelaksanaan operasi militer di tingkat Mabes TNI. Sebelum pensiun, posisi itu menjadi salah satu jabatan tertinggi yang pernah diembannya.

Pangkat Kehormatan

Pusung juga menerima kenaikan pangkat istimewa menjadi Letnan Jenderal (HOR) TNI bintang tiga yang diberikan Presiden Prabowo.

Penganugerahan pangkat kehormatan tersebut dilakukan secara langsung di atas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 di Teluk Jakarta, yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT TNI ke-80.

Penghargaan ini didasarkan pada Keputusan Presiden RI Nomor 93/TNI Tahun 2025 tentang Penganugerahan Pangkat secara Istimewa kepada sebelas perwira purnawirawan TNI.

Wakil Kepala BGN

Setelah memasuki masa purnatugas, Lodewyk tidak sepenuhnya meninggalkan dunia pengabdian publik.

Ketika Presiden Prabowo membentuk struktur Badan Gizi Nasional untuk menjalankan program MBG, ia dipercaya menduduki posisi Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi. Jabatan itu diembannya sejak Oktober 2024.

Di BGN, tugas Lodewyk berkaitan dengan pengawasan, komunikasi publik, serta penguatan koordinasi program yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo.

Kehadirannya dianggap melengkapi jajaran pimpinan yang terdiri dari kalangan akademisi, birokrat, dan aparat negara.

Namun perjalanan Lodewyk di lembaga tersebut berakhir pada awal Juni 2026. Bersama Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya, ia dicopot dalam evaluasi besar yang dilakukan pemerintah terhadap kinerja BGN.

Pergantian pimpinan itu diumumkan langsung oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Pada hari yang sama, muncul informasi mengenai penjemputan tiga mantan pimpinan lembaga tersebut, termasuk Lodewyk Pusung. Sampai saat ini penyidik masih melakukan pendalaman dan belum membeberkan konstruksi perkara yang sedang ditangani.

Bagi publik, Lodewyk Pusung kini menjadi sosok yang berada di persimpangan antara rekam jejak panjang sebagai jenderal TNI dan dinamika hukum yang sedang berkembang di BGN.

Perhatian kini tertuju pada bagaimana proses yang tengah berjalan di Kejaksaan Agung akan mengungkap peran serta keterkaitannya dalam perkara yang sedang diselidiki.

Situasi semakin berkembang setelah Kejagung menggeledah kantor BGN di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *