BRANINEWS.ID|| Setelah keluar dari militer dan sempat bekerja sebagai kontraktor pertahanan, arah hidup Witt berubah total. Pada Agustus 2013, ia resmi membelot dengan terbang ke Teheran, Iran. Setelah pelariannya, pemerintah Iran disebut memfasilitasi Witt dengan tempat tinggal mewah dan peralatan komputer untuk mendukung aktivitas intelijen mereka.

Dia membelot pada 2013, Witt tidak langsung disidang karena posisinya berada di luar jangkauan hukum AS. Intelijen AS membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti digital mengenai kerusakan yang ditimbulkannya.

Kasus ini berakar dari rekam jejak Witt saat masih aktif di militer. Pada periode 2003 hingga 2008, Witt bertugas sebagai perwira kontraintelijen di Air Force Office of Special Investigations (AFOSI) yang membawanya dalam berbagai misi rahasia di Timur Tengah.

Dalam pengumuman resmi pada Kamis (14/5/2026), FBI menyatakan bahwa perburuan terhadap Witt masih terus berjalan. Pihak berwenang meyakini Witt saat ini masih bersembunyi di Iran dan terus mendukung aktivitas siber yang merugikan keamanan AS.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menawarkan hadiah sebesar USD 200.000 atau setara Rp3,5 miliar (kurs 1 USD = Rp17.600) bagi siapa saja yang memiliki informasi yang dapat mengarah pada penangkapan Setelah keluar dari militer dan sempat bekerja sebagai kontraktor pertahanan, arah hidup Witt berubah total. Pada Agustus 2013, ia resmi membelot dengan terbang ke Teheran, Iran.

“FBI tidak melupakan kasus ini. Kami yakin bahwa di tengah situasi penting yang sedang terjadi di Iran saat ini, ada seseorang yang mengetahui keberadaannya,” kata Daniel Wierzbicki, Kepala Divisi Kontraintelijen dan Siber FBI Washington Field Office, sebagaimana dikutip dari CNN.

Jaksa penuntut membeberkan bukti bahwa sepanjang Januari 2012 hingga Mei 2015, Witt bersekongkol dengan intelijen Iran untuk menyerahkan dokumen pertahanan nasional AS. Data dari Witt ini kemudian digunakan oleh empat peretas asal Iran—yang juga ikut didakwa pada 2019—untuk menyerang komputer dan mencuri identitas agen-agen militer AS lainnya.

Penyelidikan panjang tersebut baru membuahkan hasil pada Februari 2019, ketika Departemen Kehakiman AS resmi merilis dokumen dakwaan hukum (indictment) terhadap Witt. Saat itu, Asisten Jaksa Agung John Demers menuduh Witt telah membocorkan program pengumpulan intelijen militer yang sangat rahasia (Special Access Program) serta mengungkap identitas asli rekan-rekan lamanya sesama agen rahasia AS ke pihak Iran.(BRO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *