
JAKARTA,BRANINEWS.ID– Informasi ini disampaikan secara resmi oleh Direktur Narasix Catharina Davy Sopamena, dan semua pemegang saham sudah menyatakan persetujuannya terhadap pengambil-alihan tersebut.
Entah apa alasan Najwa Shihab akhirnya menyerah pada perusahaan besar yang memang sudah punya usaha di bidang media yang begitu banyak? Apakah untuk membesarkan atau memang sudah tak sanggup?
Tercatat perusahaan media di bawah Grup Djarum ini seperti Kumparan, IDN Times, DailySocial (berita teknologi), Historia (media sejarah), Bolalob (media olahraga), Endeus (kuliner), dan lain sebagainya. Totalnya sampai 20 media.
Apakah Najwa Shihab masih tetap berada di Narasi atau justru sudah pergi? Sebab, bagaimanapun juga simbol dari Narasi sebagai media itu, adalah Najwa Shihab itu sendiri, dan bukan yang lainnya.
Sempat dua kali muncul saat diundang dialog bersama Presiden Prabowo di Hambalang, praktis setelah itu, Najwa Shihab, tak banyak lagi muncul di publik. Narasi pun seperti mati. Bahkan sebelum pertemuan itupun, Najwa tidak lagi eksis seperti di era sebelumnya.
Najwa Shihab adalah simbol seorang jurnalis yang kritis, tajam, dan terkenal tak mudah ditaklukkan, kalau sudah diwawancarainya. Narasumber yang tanpa persiapan, akan habis “dilumat” Najwa Shihab lewat pertanyaan-pertanyaannya seperti peluru sniper.
Di masanya, Presiden Prabowo kadang tersudut oleh berondongan pertanyaan yang dilontarkan Najwa Shihab.
Fenomena diambil alihnya semua saham Narasi Citra Sahwahita oleh Grup Djarum ini adalah pelajaran bahwa media pun dikuasai oleh perusahaan besar (oligarki). Dan fenomena ini, bukan saat ini saja terjadi, tapi sudah berlangsung sejak lama.
Artinya, kebebasan pers pun sesungguhnya kebebasan yang juga dikuasai pihak tertentu, dan bukan murni dimiliki oleh masyarakat. Lama tak muncul, ternyata Narasi Citra Sahwahita yang didirikan jurnalis senior Najwa Shihab, diambil alih semua sahamnya oleh PT Global Digital Internasional milik Grup Djarum. milik konglomerat Indonesia, keluarga Hartono.( SB/FBA/ERIZAL)
