BRANINEWS.ID –Sebuah pengingat bagi kita semua,bahwa pangkat bisa dicopot, jabatan bisa diganti, namun integritas akan terus melekat pada nama baik seseorang selamanya. Terima kasih atas pengabdianmu, Aipda Vicky Katiandagho.

Bagi Vicky, seragam polisi adalah simbol pengabdian, namun integritas adalah harga mati. Mundur dari institusi bukan berarti berhenti berjuang; itu adalah cara ia menjaga kehormatan dirinya sebagai seorang penegak kebenaran yang tidak bisa dibeli atau disetir oleh kepentingan penguasa.

Kini, dunia kepolisian kembali dikejutkan oleh sosok Aipda Vicky Katiandagho. Bukan karena pelanggaran, melainkan karena sebuah prinsip yang tak tergoyahkan. Polisi yang dikenal dengan ciri khas rambut panjangnya ini, resmi mengakhiri pengabdian di institusi Polri setelah memilih mundur secara terhormat—sebuah keputusan sulit yang lahir dari benturan antara tugas dan keadilan.

Mundur dengan Kepala Tegak
Ketika sistem seolah tidak memberikan ruang bagi penuntasan keadilan yang ia perjuangkan, Aipda Vicky mengambil langkah yang jarang berani diambil orang lain: Mengundurkan diri.

Dedikasi yang Terbentur Mutasi Misterius
Sebagai Kanit Pidsus Sat Reskrim Polres Minahasa, Aipda Vicky bukanlah penyidik biasa. Ia berada di baris terdepan dalam memerangi “penyakit” bangsa: Korupsi. Di balik meja kerjanya, ribuan dokumen sedang dirapikan dan puluhan saksi telah dimintai keterangan. Ia sedang membongkar kasus korupsi besar yang melibatkan orang-orang berpengaruh di Kabupaten Minahasa.

Namun, tepat saat penyidikan sedang memuncak dan koordinasi dengan BPKP Sulut untuk audit kerugian negara tengah berjalan, sebuah surat mendarat di mejanya. Ia dimutasi ke Polres Kepulauan Talaud.

“Tidak ada alasan yang jelas. Saya sedang menangani perkara yang menjadi perhatian publik karena melibatkan orang-orang penting. Tiba-tiba, saya dipindahkan saat penyidikan tengah berjalan,” ungkapnya dengan nada tenang namun tegas.

Perlawanan Santun untuk Sang Kapolri
Aipda Vicky tidak diam. Lewat sebuah surat yang ditujukan langsung kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, ia menitipkan harapan terakhirnya. Ia tidak meminta jabatan tinggi, ia hanya meminta satu hal: Izin untuk menuntaskan apa yang telah ia mulai.

Ia memohon agar mutasinya ditinjau kembali, bukan karena takut ditempatkan di pelosok, melainkan karena tanggung jawab moralnya pada kasus korupsi yang sedang ia tangani. Ia ingin memastikan bahwa bukti-bukti yang telah dikumpulkannya tidak berakhir sia-sia di laci meja yang terkunci.(HG/AWD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *