Oleh :MSFB

Mengingatkan kembali dalam sejarah,kisah “Operation Jakarta” menjadi pelajaran paham bagi dunia: bahwa “Metode Jakarta”cara mematikan oposisi dengan kekerasan dan rekayasa,adalah salah satu babak tergelap dalam sejarah Perang Dingin. Sebuah strategi yang lahir di Indonesia, lalu diekspor untuk menghancurkan demokrasi di negeri lain.

Sejarah punya cara unik untuk mengulang dirinya, dan kali ini bukan dalam bentuk komedi, melainkan sebagai strategi politik kotor yang berlumuran darah. Dua peristiwa kelam di dua benua berbeda ,Indonesia tahun 1965 dan Cile tahun 1973,menyimpan kemiripan yang begitu mengerikan. Keduanya terjadi di bulan September, melibatkan kekerasan masif, dan diduga kuat memiliki “tangan tak terlihat” yang sama di balik layar: Amerika Serikat.

Di Jakarta, Soeharto naik tahta setelah peristiwa yang melibatkan PKI. Di Santiago, Jenderal Augusto Pinochet melancarkan kudeta berdarah terhadap Presiden Salvador Allende. Namun, fakta yang paling mengejutkan baru terungkap belakangan: Operasi penggulingan di Cile itu bahkan diberi nama sandi khusus oleh CIA, “Operation Jakarta”.

DARAH DARI JAKARTA KE SANTIAGO

Di Indonesia, setelah peristiwa 30 September 1965, narasi yang dibangun menyalahkan PKI sebagai dalang utama. Namun seiring waktu, banyak pihak termasuk media internasional mulai mempertanyakan kebenaran tersebut, bahkan menyebut bahwa Soeharto dan kalangan militer telah merancang skenario ini jauh hari.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk. Terjadi pembantaian terorganisir yang menewaskan sekitar satu hingga dua juta orang, mulai dari anggota partai, simpatisan, hingga warga biasa yang tak bersalah. Tokoh kunci seperti DN Aidit ditembak mati, Menlu Subandrio dihukum mati, dan Presiden Soekarno perlahan dilumpuhkan kekuasaannya hingga resmi lengser pada 1967.

Dalam sekejap, Indonesia yang sebelumnya condong ke Timur dan dekat dengan Tiongkok, berbalik arah total membuka diri sepenuhnya bagi investor Barat dan perusahaan multinasional.

Delapan tahun kemudian, “resep” yang sama diterapkan di belahan bumi lain.

Pada 11 September 1973, Cile diguncang kudeta. Targetnya adalah Salvador Allende, presiden sosialis terpilih yang berani melakukan nasionalisasi industri, perbankan, dan pertambangan. Kebijakan ini jelas mengganggu kepentingan raksasa bisnis AS.

Dokumen yang dideklasifikasi pada 2001 membongkar keterlibatan langsung Presiden Richard Nixon dan penasihatnya Henry Kissinger. Duta Besar AS saat itu, Edward Korry, bahkan begitu fanatik membenci Allende, menyebutnya sebagai “setan” dan kebijakannya sebagai teror.

Untuk meyakinkan militer Cile agar berani bertindak, CIA menggunakan taktik psikologis yang jenius sekaligus kejam. Mereka menyebarkan selebaran bertuliskan “Djakarta Se Acerca” atau “Jakarta Sudah Dekat”.

Pesan ini dimaksudkan untuk menanamkan ketakutan: jika Allende dibiarkan berkuasa, para perwira tinggi militer akan dibunuh habis seperti yang terjadi pada para jenderal di Indonesia. Terpancing oleh rasa takut dan ambisi, militer di bawah komando Pinochet bergerak. Allende tewas di Istana La Moneda, dan rezim baru dimulai dengan teror.

ANTARA TEROR SENI DAN DARAH DI SANTIAGO

Kudeta ini tidak hanya merenggut nyawa pemimpin negara, tapi juga mengubah Cile menjadi negeri penjara raksasa selama 17 tahun. Ribuan orang ditangkap, ditahan di stadion olahraga, disiksa, dan dibunuh.

Seniman besar seperti Victor Jara menjadi korban kebrutalan yang tak termaafkan. Bahkan penyair legendaris pemenang Nobel, Pablo Neruda, tidak luput dari penghinaan; rumahnya dirusak habis-habisan oleh tentara tak lama sebelum ia meninggal dunia.

Di bawah rezim Pinochet, negara diterapkan sistem “shock doctrine” atau doktrin kejut—penerapan ekonomi neoliberal yang keras dan kejam. Total korban jiwa dan orang hilang mencapai ribuan, termasuk ayah dari presiden masa depan, Michelle Bachelet, yang disiksa sampai mati.

Ironisnya, sama seperti Soeharto yang memimpin 32 tahun dan meninggal dengan tenang, Pinochet juga wafat pada 2006 tanpa pernah benar-benar dihukum berat atas kejahatannya, meski ratusan anak buahnya telah diadili.

WARISAN SEJARAH KELAM TAK PERNAH MATI

Hingga hari ini, luka itu belum kering. Peringatan 50 tahun kudeta pada 2023 menjadi bukti bahwa rakyat Cile masih terus mencari kebenaran. Meskipun Pinochet pernah ditangkap di London pada 1998,menjadi mantan kepala negara pertama yang ditangkap di luar negeri—undang-undang amnesti yang ia buat sendiri masih menjadi tembok penghalang keadilan.

Nasib lebih dari seribu orang yang hilang hingga kini belum terjawab, dan pencarian masih terus dilakukan oleh pemerintah saat ini di bawah Presiden Gabriel Boric.(ISS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *