
BRANINEWS.ID || Publik kembali dihebohkan lagi, setelah virus covid 19 banyak makan korban,kini ada lagi yang namanya Hantavirus. Penyakit pernafasan ini dengan pembahasannya mengenai hantavirus . Penyakit ini muncul setelah kasus kematian di kapal pesiar MV Hondius menjadi sorotan dunia. Topik ini ramai diperbincangkan di media sosial karena melibatkan penumpang dari berbagai negara dan memicu kekhawatiran soal penyebaran penyakit menular.
Dilaporkan oleh World Health Organization (WHO), kasus gangguan pernapasan berat yang menimpa sejumlah penumpang kapal pesiar tersebut diidentifikasi sebagai hantavirus pada 4 Mei 2026. Hingga 7 Mei 2026, dilaporkan tiga orang meninggal dunia dan lima dari delapan kasus telah terkonfirmasi positif hantavirus.
“Masih ada kemungkinan lebih banyak kasus akan dilaporkan,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip dari pernyataan resmi WHO (7/5/2026).dikutip dari Kompas.
Munculnya kasus Hantavirus di kapal pesiar itu membuat sejumlah negara mulai melacak penumpang yang berada di dalam kapal. Sebab, penumpang diketahui berasal dari sedikitnya 12 negara, termasuk Inggris dan Amerika Serikat.
Penyakit Hantavirus kini menjadi sorotan internasional usai adanya wabah yang melanda para penumpang kapal pesiar MV Hondius di perairan Samudra Atlantik.
Sorotan mengenai Hantavirus atau virus Hanta tersebut salah satunya ditunjukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO mengungkapkan saat ini ada tiga penumpang MV Hondius yang meninggal dunia, serta lima kasus terkonfirmasi. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan adanya kemungkinan kasus-kasus lain, namun risiko terhadap kesehatan masyarakat tetap rendah.
“Meskipun ini merupakan insiden yang serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah,” kata dia dikutip dari Al Jazeera, Kamis (7/6/2026).
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mewaspadai potensi masuknya hantavirus ke Indonesia setelah wabah dilaporkan terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Pemerintah mulai memperkuat sistem skrining serta menyiapkan rapid test hingga reagen PCR untuk mendeteksi virus tersebut, Kamis (7/5/2026) di Jakarta.
Budi mengatakan pemerintah memperkuat sistem skrining guna mengantisipasi penyebaran hantavirus dan telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperoleh panduan penanganan serta metode skrining. Pemerintah juga menyiapkan perangkat deteksi dini meski reagen khusus hantavirus belum tersedia secara luas, dengan opsi penggunaan rapid test maupun PCR seperti saat pandemi Covid-19.
“Virus ini lumayan virus yang berbahaya, jadi kita sudah koordinasi dengan WHO, kita minta guidance untuk bisa melakukan skriningnya,” kata Budi di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (7/5/2026).( MKS)
