Oplus_131072

BRANINEWS.ID|| Dunia pertahanan dan geopolitik internasional kerap diidentikkan dengan dunia laki-laki yang kaku dan penuh rahasia. Namun, anggapan itu runtuh seketika saat kita melihat kiprah Rahakundini Laspetrini, atau yang lebih populer dikenal sebagai Connie Rahakundini Bakrie.

Putri dari pakar nuklir legendaris Indonesia, H. Bakrie Arbie, Ph.D. ini adalah anomali. Cerdas, tajam, dan memiliki nyali yang kerap membuat para jenderal kelabakan, Profesor Connie sukses menembus barikade elite politik dan militer dunia. Namanya bahkan tercatat sebagai salah satu tokoh yang pandangan akademisnya didengar di lingkaran dalam Kremlin oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin.

“Anak Magang” di Tel Aviv yang Dituduh Agen Ganda
Pengembaraan akademis Connie di wilayah-wilayah konflik paling sensitif di dunia sering kali memicu kontroversi dan kecurigaan. Demi menyelesaikan studi S3 di Universitas Indonesia, ia rela menetap di Tel Aviv untuk menjadi Peneliti Senior di Institute of National Security Studies (INSS) Israel. Ia sukses meraih gelar Doktor pada 2013 dengan IPK 3,96 lewat disertasi komparatif yang membedah elemen militer Indonesia dan Israel.

Kiprahnya yang lintas benua—pernah mencicipi pendidikan di Fu Xi Kang War Academy Taiwan, Birmingham University Inggris, hingga MIT Boston—membuat namanya sering diterpa isu miring. Di dalam negeri, ia sempat dicap sebagai agen intelijen Israel (Mossad). Namun, belakangan ketika ia terlihat dekat dengan Kremlin, tuduhan itu bergeser menjadi agen Rusia (KGB/FSB).

Menanggapi berbagai rumor “gila” tersebut, Connie meresponsnya dengan selera humor yang khas dalam sebuah wawancara podcast bersama mantan Ketua KPK Abraham Samad.

“Jika saya dituduh sebagai agen Mossad dan agen KGB, maka artinya sekaligus saya juga agen MI6 (Inggris) atau agen CIA (Amerika Serikat),” kelakar Profesor Connie sambil tertawa.

Disegani di Rusia: Berbicara Langsung di Hadapan Vladimir Putin
Bantahan jenaka itu dibuktikannya lewat prestasi akademik murni. Pada Juni 2024, Profesor Connie mencetak sejarah dengan ditunjuk sebagai Guru Besar (Profesor) bidang Hubungan Internasional di Saint Petersburg State University, Rusia. Ini bukan kampus sembarangan—institusi elite tersebut telah berusia lebih dari 300 tahun dan menelurkan sembilan peraih Nobel.

Di Rusia, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Ambassador of Science and Education of Russia. Yang paling prestisius, Connie menjadi satu-satunya ilmuwan Indonesia yang aktif dan berbicara langsung dalam forum Valdai Discussion Club di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin. Forum ini merupakan think tank papan atas berbasis di Moskow yang mengumpulkan komunitas ilmiah dari 71 negara untuk merumuskan arah kebijakan luar negeri Rusia.

Arsitek di Balik Modernisasi Militer Indonesia (MEF)
Sebelum mengepakkan sayapnya ke Rusia, Connie adalah pemikir utama di balik strategi pertahanan maritim Indonesia. Pemikirannya yang dituangkan dalam buku Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal (2007) serta Defending Indonesia (2008) diadopsi langsung oleh Menteri Pertahanan RI saat itu, Profesor Juwono Sudarsono.

Buku-buku karya Connie ini menjadi kitab rujukan dalam menyusun program jangka panjang pemenuhan Alutsista Indonesia yang dikenal dengan nama Minimum Essential Force (MEF) atau Kekuatan Pokok Minimal (2009–2024). Tiga pilar komponen postur dalam kebijakan MEF—yakni Kekuatan, Sebaran Penempatan, dan Kemampuan—merupakan intisari dari buah pemikiran strategisnya.

Penakluk Badai Jenderal dan Gagalkan Anggaran Rp 1.760 Triliun
Di dalam negeri, kritik Connie yang berbasis data ilmiah menjadikannya sosok yang disegani sekaligus kontroversial. Pada tahun 2017, kritik kerasnya terhadap Panglima TNI saat itu, Jenderal Gatot Nurmantyo, dinilai berhasil memicu transisi kepemimpinan yang cepat di tubuh militer menuju profesionalisme baru di bawah Marsekal Hadi Tjahjanto. Atas keberaniannya, majalah internasional Globe Asia menobatkan Connie dalam daftar “99 Most Powerful Women in Indonesia”.

Keberaniannya kembali diuji saat terlibat perdebatan panas dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada periode 2019–2021. Connie secara vokal mengkritisi kontroversi mafia alutsista berinisial “M” hingga rencana anggaran pertahanan fantastis senilai Rp 1.760 triliun. Dampak dari kritik tajamnya tersebut, Kementerian Keuangan bersama Bappenas akhirnya membatalkan anggaran raksasa itu dan memangkasnya menjadi sekitar Rp 700 triliun.

Menariknya, rivalitas itu murni profesional. Saat Connie terserang Covid-19, Prabowo Subianto menunjukkan perhatian besar dengan mengirimkan tim dokter khusus Kementerian Pertahanan serta obat yang didatangkan langsung dari Prancis untuk kesembuhannya.

Kini, perempuan yang juga menjadi rekan dekat Megawati Soekarnoputri ini memilih menetap di St. Petersburg. Di sana, ia baru saja dianugerahi Bintang Kehormatan dari Menlu Rusia Sergei Lavrov dan medali Golden Lyon Award sebagai profesor asing terbaik. Kisah “gila” Connie Bakrie membuktikan bahwa kekuatan argumen ilmiah dan ketegasan sikap mampu menembus sekat-sekat geopolitik paling keras di dunia.SB BS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *