
BRANINEWS.ID || Nilai tukar rupiah tertekan tajam hingga menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan hal ini merupakan gabungan faktor domestik dan global dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.
Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong harga minyak Brent melonjak di atas US$120 per barel. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Hal ini menaikkan imbal hasil obligasi AS dan memicu arus modal keluar dari negara berkembang ke Amerika Serikat.
Secara dalam negeri, tekanan terjadi pada periode April hingga Juni akibat lonjakan permintaan valuta asing. Kebutuhan tersebut berasal dari biaya jemaah haji, pembayaran dividen perusahaan, serta pelunasan utang luar negeri.
Meski begitu, Perry menegaskan pelemahan ini bersifat sementara dan rupiah saat ini dinilai terlalu rendah. BI memproyeksikan rupiah akan menguat kembali mulai Juli hingga Agustus. Rata-rata nilai tukar sepanjang 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.800, sesuai asumsi APBN.(SUN)
