
BRANINEWS.ID|| Pengamat ekonomi dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, pemerintah perlu mengambil langkah besar untuk menstabilkan rupiah, termasuk menghentikan sejumlah proyek strategis yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ibrahim mengaku mendapat informasi bahwa sejumlah proyek bernilai ratusan miliar hingga triliunan rupiah mulai dihentikan. Selain itu, ia juga menilai program-program yang membebani APBN sebaiknya ditunda sementara.
Nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus melemah dan menembus level psikologis baru Rp18.000 per dolar karena kuatnya tekanan eksternal akibat tensi geopolitik global.
Pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026) pukul 17.00 WIB, rupiah melemah ke level Rp 17.706 per dolar AS.
“Yang pertama itu adalah proyek-proyek vital itu harus dihentikan pemerintah. Pemerintah harus fokus terhadap bagaimana menanggulangi agar rupiah ini kembali stabil,” tutur Ibrahim dikutipTribunnews-com, Selasa (19/5/2026). Lanjutnya lagi,kata Ibrahim “,Selain itu, program yang mengeluarkan dana besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih juga perlu dihentikan.”MBG pun juga seharusnya dihentikan. Koperasi Merah Putih seharusnya dihentikan karena ini juga yang membebani APBN kita,”ungkapnya.
Selain itu, program yang mengeluarkan dana besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih juga perlu dihentikan.
Menurut Ibrahim, akar persoalan utama tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya impor minyak mentah Indonesia yang mencapai 1,5 juta barel per hari.Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk memperkuat rupiah secara signifikan. Ibrahim mendorong pemerintah merevisi Undang-Undang Migas Nomor 22 Tahun 2001 guna menarik investasi eksplorasi minyak baru.(SBTBR)
