Laporan: Rizal
BRANINEWS.ID –Kalau mendengarkan penjelasan mantan Kepala Bais TNI, Soleman Ponto, di berbagai kesempatan, termasuk dalam Podcast Madilog Forum Keadilan bersama Indra J Piliang, terkait penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus oleh oknum TNI, doktrin garis komando di TNI dari atas sampai ke bawah itu, tidak sepenuhnya juga benar.

Artinya, doktrin itu tidak bisa ditelan bulat-bulat begitu saja. Secara formal mungkin iya, tapi secara informal bukan tak ada anggota TNI itu yang punya masalah antara atasan dan bawahannya. Ada saja ketimpangan atau perlakuan yang tidak adil, gejolak di internal itu pasti muncul. Bukan dalam bentuk protes langsung, tapi celetukan yang berefek pada tugas anggota TNI itu sendiri.

Soleman Ponto menilai UU TNI yang baru bisa jadi sumber masalah baru di TNI itu sendiri, khususnya terkait perpanjangan usia pensiun para perwira tinggi. Bagi perwira pertama dan menengah, bisa jadi itu sebagai jalan untuk menutup karirnya lebih lanjut. Sebab, komandannya tak kunjung pensiun. Berarti, peluangnya untuk naik pangkat dan menggantikan, sudah tertutup. Makanya di mana-mana yang banyak protes itu berpangkat kolonel. Sejarah kita juga mencatat itu.

Bahkan, terlalu banyak yang berpangkat Letjen pun dianggap Soleman Ponto sebagai sumber masalah baru. Ia mencontohkan Kepala Bais TNI, Letjen TNI Yudi Abrimantyo, yang mundur akibat dari afek kasus penyiraman air keras Andrie Yunus itu, yang tak bisa langsung diganti, karena posisinya harus diisi oleh seorang yang berpangkat Letjen. Kalau sudah Letjen, maka dia akan berpikir lagi untuk naik menjadi Kepala Staf sesuai angkatannya apa.

Artinya, tidak mudah juga persoalan ini. Karena itu, upaya pihak-pihak tertentu mengait-ngaitkan peristiwa penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus ini, sebagai tidakan institusi dan terencana dari pihak TNI, perintah atasan yang lebih tinggi, itu mengada-ada.

Mundurnya Kepala Bais itu sudah merupakan tanggung jawab yang harus diapresiasi. Sebab, hal itu tidak saja mencoreng, tapi juga merendahkan institusi TNI kita sendiri, yang sudah tercoreng juga akibat kasus itu.

Soleman Ponto mengatakan kalau itu perintah operasi, tidak seperti itu “cara” mainnya. Jejak-jejaknya terlalu mudah untuk ditemukan dan tanpa pengamanan apa-apa pula. Bahkan, pelaku pun terkena air keras yang disiramkannya sendiri. Itu kan konyol?

Tidak pernah ada perintah operasi itu yang setengah-setengah. Sekadar efek jera atau hanya bikin catat, misalnya. “Itu tidak pernah ada, “tegas Soleman Ponto. Dan tidak pernah ada pula perintah operasi seperti itu yang meninggalkan jejak, yang bisa dibuktikan dengan mudah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *